Minggu, 04 Januari 2015

Film Untuk Anak? (Ayo Lindungi Generasi Penerus Kita!)





Anak-anak merupakan aset berharga untuk kita semua. Mengapa? Karena merekalah generasi penerus kita. Mereka pula yang akan melanjutkan perjuangan kita membangun peradaban di dunia ini. Maka dari itu sangatlah penting memberikan pendidikan pada anak, termasuk bagaimana cara memberikan hiburan pada mereka. 

Ya tentu saja usia anak-anak sedang asyik-asyiknya bermain, juga mempelajari hal yang baru. Karena itu pengawasan orangtua perlu di tingkatkan pada masa ini. Mengapa demikian? Coba perhatikan apa salah satu hiburan anak saat ini? Ya, salah satunya tentu televisi. Mereka bisa duduk lama di depan layar televisi, bahkan berjam-jam untuk menonton film kesukaan mereka. 

Hal tersebut memang wajar ketika ada batas waktunya. Wajar pula ketika film yang mereka konsumsi hampir setap hari itu memang layak untuk mereka. Namun bagaimana jika film tersebut tidak layak untuk anak-anak seusia mereka? 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini perfilman di Indonesia kurang memihak pada anak-anak. Hanya saat jam tertentu saja anak-anak bisa menonton film khusus untuk mereka, seperti kartun misalnya. Ada juga talkshow anak di beberapa stasiun televisi. Namun tentu saja tak lebih banyak dibanding film dewasa.

Film dewasa banyak macamnya. Dari yang benar-benar khusus untuk dewasa hingga yang berkedok anak-anak atau remaja namun beradegan dewasa. Film seperti inilah yang harus diperhatikan oleh semua orangtua. Bagaimana tidak, menurut ilmu psikologi anak merupakan peniru terbaik. Mereka mengatakan apa yg mereka dengar, meniru gerak orang yg mereka lihat dan bagaimana menggunakan tangan, ekspresi wajah dan suara yg mereka dengar untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Bayangkan saja jika anak-anak saat ini telah diberi contoh yang tidak baik, seperti film yang mengandung adegan yang tidak seharusnya mereka lihat. Berpelukan, berciuman, pacaran, atau kebanyakn film saat ini mengangkat tema tentang percintaan remaja, yang sebetulnya jika kita lihat lebih dalam lagi itu bukan merupakan percintaan remaja tetapi dewasa. Bayangkan jika anak berumur tujuh tahun misalnya, atau anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) meniru adegan serupa. Sungguh miris bukan?

Tetapi saat ini memang sudah banyak anak “hasil produksi” film dewasa itu. Bisa kita lihat di sekeliling kita, mungkin bahkan saudara, adik, atau anak anda sendiri yang mengalaminya. Berkata kasar atau yang tidak pantas mereka ucapkan terdengar keluar dari bibir mereka. Ataupun melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, berpacaran di sekolah ketika masih SD misalnya. 

Maka dari itu sekali lagi saya tekankan kepada setiap orangtua untuk lebih mengawasi anak-anak anda. Tidak berlebihan, namun tetap dalam pengawasan. Saran saya dampingi mereka saat mereka sedang menonton televisi atau film apapun. Jangan malas memberi penjelasan mengenai apa yang mereka tonton, sisi positif dan negatifnya. Dan tentu saja batasi waktu menonton mereka.

Saya kira semua sepakat bahwa kita menginginkan generasi penerus yang lebih baik. Yang bisa memperbaiki kesalahan generasi saat ini di masa yang aka datang. Oleh karena itu jagalah generasi kita sebaik mungkin. Bantu mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Saya rasa tidak sulit jika kita mau melakukannya. Selamat mencoba :)

-Rusma Desinta-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar