PSIKOANALISA
(source: google image)
Psikoanalisa
pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud pada tahun 1896. Secara umum
psikoanalisa merupakan suatu pandangan baru tentang manusia pada abad 20-an,
dimana ketidaksadaran memainkan peranan sentral. Pandangan psikoanalisa ini
dapat digunakan dalam mengobati klien-klien yang mengalami gangguan psikis. Menurut
psikoanalisa masalah psikologis bersumber dari konflik bawah sadar antara id,
ego, dan super ego. Karena pandangan tersebutlah maka tujuan terapi dalam
psikoanalisa adalah untuk membawa konflik-konflik bawah sadar ke atas
kesadaran. Dan tugas dari terapis adalah menciptakan kondisi dimana ego menjadi
lebih rileks dan menginterpretasikan simbol-simbol tersamar dari alam bawah
sadar kepada klien. Berikut beberapa teknik terapi dalam mazhab psikoanalisa:
1.
Free
Association (Asosiasi Bebas)
Metode
asosiasi bebas merupakan metode yang digunakan oleh Freud dimana klien diminta
untuk mengatakan apapun yang datang ke pikiran klien sehingga memungkinan isi
dari pikiran bawah sadar untuk masuk melewati sensor ego. Dengan kata lain
asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa
lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis dimasa
lampau.
Freud
berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, maka dari
itu sebenarnya menurut Freud ketika klien jujur maka terapis pun akan dapat
menyelami pikiran yang bebas dari klien. Namun dalam prakteknya penggunaan
asosiasi bebas ini belum membuat Sigmund Freud puas karena masih banyak isi
dari ketidaksadaran yang ternyata tidak dapat dikeluarkan oleh klien sehingga
membatasi dalam penyembuhan.
2.
Dream
Interpretation (Interpretasi Mimpi)
Freud
berpikir bahwa isi ketidaksadaran dapat pula timbul dalam mimpi. Mimpi merupakan
suatu produk psikis, maka bisa dikatakan bahwa mimpi sebagai keinginan tidak
sadar yang muncul dalam kesadaran. Dalam metode ini klien diminta untuk
menceritakan mimpi yang saat itu diingat olehnya, kemudian terapis akan
menghubungkan antara berbagai kejadian dalam mimpi klien.
3.
Interpretation
of Resistence
Resisten
merupakan reaksi oposisi dari klien terhadap proses psikoanalisa. Dalam pelaksanaan
terapi klien bisa saja menolak untuk mengeluarkan isi dari pikiran-pikirannya
sehingga terapis tidak bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran bawah sadar klien.
Reaksi resisten dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu secara samar-samar dan
jelas. Reaksi ini muncul secara samar-samar ketika klien diam-diam
menyembunyikan pikiran yang sebenarnya ataupun klien berbohoong kepada terapis
ketika bercerita. Dan secara jelas ktika klien dengan jelas menolak untuk
menceritakan pengalamannya kepada terapis.
4.
Interpretation
of Transference
Transference merupakan
fenomena dalam psikoanalisa dimana klien diminta untuk merasakan dan bersikap
terhadap terapis dengan cara yang sama dengan apa yang dia lakukan terhadap
figur dewasa lain yang signifikan baginya.
5. Katarsis
(hipnosa)
Metode
katarsis ini diperoleh dari dokter Josep Breuer. Metode hipnosa merupakan suatu
metode untuk menjadikan klien setengah sadar atau berkurang kesadarannya
sehingga lebih mudah dilihat isi dari alam ketidaksadarannya. Menurut dr.
Breure berdasarkan metode katarsis itu telah terbukti adanya kaitan antara
ingatan-ingatan yang dilupakan dengan gejala-gejala historis.
BEHAVIORISTIK
Steven
Jay Lynn dan John P. Garske (1985) menyebutkan bahwa di kalangan
konselor/psikolog, teori dan pendekatan behavior sering disebut sebagai
modifikasi perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior
therapy), sedangkan menurut Carlton E. Beck (1971) istilah ini dikenal
dengan behavior therapy, behavior counseling, reinforcement therapy, behavior
modification, contingency management. Istilah pendekatan behavior pertama
kali digunakan oleh Lindzey pada tahun 1954 dan kemudian lebih dikenalkan oleh
Lazarus pada tahun 1958.
Berdasarkan
pada hakikat manusia, teori dan pendekatan behavior menganggap bahwa pada
dasarnya manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan
kontrol yang terbatas. Manusia memulai kehidupannya dan memberikan reaksi
terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola perilaku yang akan
membentuk kepribadian, yang juga ditentukan oleh intensitas dan beragamnya
jenis penguatan (reinforcement) yang
diterima.
Dalam
konsep behavior, perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah
dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar. Dimana proses
konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk
konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya. Dalam metode
ini terapis membantu konseli menghilangkan perilaku abnormal, mempelajari
perilaku adaptif dan mengubah kognisi yang tidak sesuai.
Terdapat
beberapa teknik yang digunakan dalam terapi behavior ini, yaitu:
a)
Teknik operant conditioning:
Prinsip-prinsip
kunci dalam behavioral adalah penguatan positif, penguatan negatif, extinction, hukuman positif dan hukuman
negatif.
b)
Model asesmen fungsional:
Blueprint
bagi konselor dalam memberikan intervensi yang diperlukan oleh konseli.
Langkah-langkah yang disiapkan konselor dilakukan tahap demi tahap dalam
memberikan perlakuan.
c)
Relaxation
training and related methods:
Teknik
yang dipakai untuk melatih konseli agar melakukan relaksasi. Dalam
pelaksanaannya konselor dapat memodifikasi teknik ini dengan systematic desentisization, asertion training, self management programs. Teknik ini tepat digunakan untuk
terapi-terapi klinis.
d)
Systematic
desentisization:
Teknik
yang tepat untuk terapi bagi konseli yang mengalami phobia, anorexia nervosa, depresi, obsesif,
kompulsif, gangguan body image.
e)
Exposure
therapies:
Variasi
dari exposure therapies adalan in vivo desentisization dan flooding, teknik terapi ini dengan
memaksimalkan kecemasan/ketakutan konseli .
f)
Eye
movement desentisization and reprocessing:
Untuk
membantu konseli yang mengalami post
traumatic stress disorder.
g)
Assertion
training:
Metode
ini didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif perilaku. Ditujukan bagi
konseli yang tidak dapat mengungkapkan ketegasan dalam dirinya.
h)
Self-management
programs and self-directed
behavior:
Terapi
bagi konseli untuk membantu terlibat dalam mengatur dan mengontrol dirinya.
i)
Multimodal
therapy
HUMANISTIK
Humanistik memandang manusia sebagai
makhluk rasional, bertujuan, otonom, kreatif, dan mampu mencapai insight terhadap realita. Asumsi dasar
dalam pendekatan humanistik, yaitu (1) Manusia pada dasarnya baik; (2) manusia
memiliki free will untuk
mengaktualisasikan potensinya di masa depan apabila berada dalam kondisi
lingkungan yang mendukung; (3) Setiap manusia itu unik dan memiliki doongan
dasar untuk mencapai aktualisasi diri.
(source: google image)
Menurut Maslow sebagian besar orang
sukar melampaui tahap kebutuhan akan cinta kasih, karena itu terapis harus
mengembangkan relasi yang terbuka dan hangat kepada klien. Dalam hal ini maka
tujuan terapi adalah untuk mengurangi rasa ketergantungan kepada orang lain dan
untuk memotivasi individu menuju aktualisasi diri.
Sedangkan Rogers dengan Client Centered Therapy (1946)
menyatakan bahwa pertumbuhan kesadaran bukan dari interpretasi, melainkan dari
rasa aman klien untuk mengeksplorasi emosi-emosi tersembunyi dalam setiap sesi
terapi. Berdasarkan hal tersebut maka terapis harus memiliki kualifikasi,
diantaranya terapis harus memiliki kepribadian yang hangat, secara murni
menyukai klien dan menerima tanpa syarat segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan
atau dilakukan oleh klien tanpa mengkritiknya, serta terapis pun harus memiliki
empati pada setiap klien yang melakukan terapi.
Terdapat beberapa
teknik dalam terapi humanistik, yaitu:
1.
Content
Analysis : Mengambil ini dari rekaman pernyataan klien untuk
ditabulasikan.
2.
Rating
Scales : Serangkaian pernyataan yang berisi karakteristik
yang akan diukur dengan cara menggambarkan kekuatan atau kelemahan dari
karakteristik tersebut dalam suatu kontinum.
3.
Q-Sort
Procedure : Klien diberi tumpukan kartu atau kertas yang
berisi berbagai pernyataan lalu diminta untuk menyusun pernyataan-pernyataan
tersebut dalam suatu kontinum dari yang paling sesuai sampai yang paling tidak
sesuai untuk enggambarkan dirinya.
DAFTAR
PUSTAKA
ocw.upj.ac.id/files/Slide-PSI-103-Psikologi-Umum-II-Terapi-Psikologis.pdf
library.walisongo.ac.id/digilib/download.php?id=10438
digilib.uinsby.ac.id/10126/6/bab%202.pdf
cleostudies.lecture.ub.ac.id/files/2014/03/05_Pendekatan-eksistensialis-humanistik.pdf