Selasa, 29 November 2016

KEPEMIMPINAN



Hasil gambar untuk kepemimpinan

Definisi Kepemimpinan
Menurut Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Sedangkan Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua konsep, yaitu sebagai proses dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tannenbaum, Weschler, & Massarik (1961) mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan ke arah satu atau beberapa tujuan tertentu, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.

Menurut Henry Mintzberg,  Peran Pemimpin adalah :
  1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
  2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
  3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator

Tipe-Tipe Kepemimpinan

1.      Tipe Otokratik
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seorng yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menunjuukkan sikap yang menonjol ”keakuannya”, antara lain dalam bentuk:
·    Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
·         Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
·         Pengabaian peran para bawahan dalam proses pemgambilan keputusan
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan adalah:
·         Menuntut ketaatan penuh dari bawahannya.
·         Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya.
·         Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi.
·         Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjaduinya penyimpangn oleh bawahan.

2.      Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat dilingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tokohtokoh adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

3.      Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharisnatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidk selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

4.      Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri ari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaransasaran apa yang ingin dicapai, tugas yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.

5.      Tipe Demokratis
·         Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
·       Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
·         Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
·        Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia.

6.      Tipe Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
7.      Tipe Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.

Kepemimpinan Transaksional
Menurut Bass (1985, 1990) pemimpin transaksional memotivasi pengikutnya dengan cara menukar imbalan untuk pekerjaan atau tugas yang telah dilaksanakan misalnya dengan penghargaan, menaikkan upah terhadap pengikutnya yang melakukan kinerja yang tinggi. Tetapi sebaliknya akan memberikan penalti (punishment) terhadap pengikutnya yang mempunyai kinerja yang rendah atau berada di bawah target. Menurut Bass(1990) dan Hughes, et al, (2002) imbalan akan mempengaruhi motivasi bawahan dan selanjutnya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan bawahan.
Kepemimpinan transaksional menurut Bass memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.        Contingent reward
Kontrak pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja yang baik, mengakui pencapaian.
b.       Active management by exception
Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan perbaikan.
c.       Pasive management by exception
Intervensi hanya jika standar tidak tercapai.
d.      Laissez-faire
Melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.

Contoh kasus:
JAKARTA - Timnas Indonesia akan menghadapi Vietnam di babak semifinal Piala AFF 2016. Apabila bisa memenangkan laga leg pertama yang akan berlangsung pada akhir pekan ini, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berjanji akan memberikan bonus kepada para pemain timnas.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sekjen PSSI, Ade Wellington. Menurut Ade, keinginan memberikan bonus disampaikan langsung oleh Ketua Umum PSSI yang baru, Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi.
Ade mengungkapkan, Edy menilai bonus sudah jadi hal yang wajib diberikan PSSI kepada para pemain Timnas Indonesia yang berjuang dengan keras di Piala AFF 2016. Menurut Ade, Edy merasa para pemain timnas sangat layak mendapatkannya.
"Bonus akan kami berikan, apalagi kalau nanti bisa juara. Leg pertama akan kami kasih bonus, juara juga (akan dapat bonus yang lain)," kata Ade saat konferensi pers di Kantor PSSI, Kuningan, Jakarta, Selasa (29/11/2016).
"Itu bukan permintaan (para pemain Timnas Indonesia). Kata Pak Ketum, kami memang harus kasih bonus itu," sambungnya.
Belum diketahui berapa nominal bonus yang akan diberikan PSSI kepada para pemain Timnas Indonesia, baik itu bonus leg pertama maupun juara. Ade menyatakan, untuk nominal bonus baru akan dikabarkan kemudian. [http://bola.okezone.com]
Dari kasus diatas dapat diketahui bahwa Ketua PSSI yakni Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi, akan memberikan bonus kepada pemain Timnas jika mereka berhasil memenangkan pertandingan. Hal tersebut sesuai dengan gaya kepemimpinan transaksional menurut Bass, dimana pemimpin akan memberikan imbalan kepada bawahannya jika mereka telah mengerjakan tugas yang diberikan sebagai salah satu motivasi kerja mereka.

Kepemimpinan Transformasional
Bass (1985) mendefinisikan kepemimpinan transformasional didasarkan pada pengaruh dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan. Para pengikut merasa percaya, mengagumi, loyal dan menghormati pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi. Seorang pemimpin transformasional dapat memotivasi para pengikutnya dengan tiga cara (Yukl, 1998), yaitu:
a)      Membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasilhasil suatu  pekerjaan,
b)      Mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri, dan
c)      Mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.
Bass (1985, 1990), Avolio & Bass (1995) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat karakteristik, yaitu: karisma, inspirasional, stimulasi intelektual dan perhatia individual. Walaupun seringkali Bass menambahkan satu karakteristik lagi yang merupakan perluasan dari karisma, yaitu idealized influence.

Contoh Kasus:
MAKASSAR — Munculnya Dr. Ir. H. Abdul Rivai Ras, MS. MM. M.Si dalam perhelatan Pilgub Sulsel 2018 mendatang, cukup fenomenal. Maklum, Rivai Ras dianggap reinkarnasi Gubernur Sulsel pertama, Kolonel A.A. Rivai.
Dalam berbagai kesempatan dan posisi jabatan, Rivai Ras di lingkungan dia bekerja mulai lingkungan lembaga militer, Kementerian Pertahanan, Kementerian Sekretariat Negara, dan Sekretariat Militer Presiden, hingga sebagai akademisi di Universitas Indonesia (UI). Rivai juga merupakan Kepala Program Pascasarjana Studi Keamanan Maritim Unhan, selalu menunjukkan gaya kepemimpinan transformasional.
Rivai dalam kesehariannya, selalu membangun gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, Rivai selalu mengharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun, sehingga muncul iklim saling percaya di antara anggota yang berada di dalam lembaga itu.
Dalam wawancara terpisah, Rivai memberi tanggapan tentang kebutuhan pemimpin yang seharusnya muncul dalam era mendatang di Sulsel. “Masyarakat Sulsel itu sangat dinamis dan cukup dihargai dengan budaya siri. Sehingga pemimpinnya harus mampu mengartikulasikan pentingnya mengembangkan kearifan lokal yang bermartabat. Juga mengedepankan kebanggaan Sulsel atau local pride sebagai nilai penting yang harus diangkat dan dijabarkan sebagai pemimpin yang pro rakyat,” papar Alumni Pondok Pesantren IMMIM Putra Modern itu.  [http://fajar.co.id]
Dilihat dari bagaimana cara Rivai yang selalu mengharapkan hubungan baik antar anggota organisasi sehingga akan muncul iklim saling percaya dan bagaimana ia ingin mengedepankan Sulawesi Selatan, terlihat jelas bahwa ia memang memiliki gaya kepemimpinan transformasional seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-nahiyah-jaidi-mpd/materi-kepemimpinan-leadership-s1-2011.pdf
file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan.pdf

Wagimo dan Ancok, D. Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional dengan Motivasi Bawahan di Militer. Dalam Jurnal Psikologi Universitas Gajah Mada, volume 32, No. 2, 112-127.
bola.okezone.com/read/2016/11/29/51/1554555/pssi-janjikan-bonus-jika-indonesia-menang-di-leg-pertama