Definisi Kepemimpinan
Menurut Stoner,
Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan
mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan.
Sedangkan Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua konsep,
yaitu sebagai proses dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan
difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana
para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi
para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan
tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi.
Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tannenbaum, Weschler, & Massarik
(1961) mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang
dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses
komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
Oleh karena
itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk
mengarahkan dan mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan ke
arah satu atau beberapa tujuan tertentu, sehingga orang-orang yang dipimpinnya
menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.
Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :
- Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
- Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
- Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator
Tipe-Tipe
Kepemimpinan
1.
Tipe Otokratik
Dilihat dari
persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seorng yang sangat egois.
Seorang pemimpin yang otoriter akan menunjuukkan sikap yang menonjol ”keakuannya”,
antara lain dalam bentuk:
· Kecenderungan
memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi,
seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat
mereka.
·
Pengutamaan
orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan
pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
·
Pengabaian
peran para bawahan dalam proses pemgambilan keputusan
Gaya
kepemimpinan yang dipergunakan adalah:
·
Menuntut
ketaatan penuh dari bawahannya.
·
Dalam
menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya.
·
Bernada
keras dalam pemberian perintah atau instruksi.
·
Menggunakan
pendekatan punitif dalam hal terjaduinya penyimpangn oleh bawahan.
2.
Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin
paternalistik hanya terdapat dilingkungan masyarakat yang bersifat tradisional,
umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional
ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat
kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan,
sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tokohtokoh adat, para ulama
dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
3.
Tipe
Kharismatik
Tidak banyak
hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan
yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya
yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya
kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharisnatik adalah
seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut
tidk selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
4.
Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini
berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya
karena para anggota organisasi terdiri ari orang-orang yang sudah dewasa yang
mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaransasaran apa yang ingin
dicapai, tugas yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin
tidak terlalu sering intervensi.
5.
Tipe Demokratis
·
Pemimpin
yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator
dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
· Menyadari
bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak
harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
·
Melihat
kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
· Memperlakukan
manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia.
6.
Tipe Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan
tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan
dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe
kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi,
indutri, manajemen modern dan perkembangan
sosial ditengah masyarakat.
7.
Tipe Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip
dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan
militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando,
keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2)
menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas,
upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut
adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki
saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi
hanya berlangsung searah.
Kepemimpinan
Transaksional
Menurut Bass
(1985, 1990) pemimpin transaksional memotivasi pengikutnya dengan cara menukar imbalan
untuk pekerjaan atau tugas yang telah dilaksanakan misalnya dengan penghargaan,
menaikkan upah terhadap pengikutnya yang melakukan kinerja yang tinggi. Tetapi
sebaliknya akan memberikan penalti (punishment) terhadap pengikutnya
yang mempunyai kinerja yang rendah atau berada di bawah target. Menurut
Bass(1990) dan Hughes, et al, (2002) imbalan akan mempengaruhi motivasi bawahan
dan selanjutnya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan bawahan.
Kepemimpinan
transaksional menurut Bass memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.
Contingent reward
Kontrak pertukaran
penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja yang baik,
mengakui pencapaian.
b.
Active management by exception
Melihat dan mencari
penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan perbaikan.
c.
Pasive management by exception
Intervensi hanya jika
standar tidak tercapai.
d.
Laissez-faire
Melepaskan tanggung
jawab, menghindari pengambilan keputusan.
Contoh kasus:
JAKARTA - Timnas
Indonesia akan menghadapi Vietnam di babak semifinal Piala AFF 2016. Apabila
bisa memenangkan laga leg pertama yang akan berlangsung pada akhir pekan
ini, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berjanji akan memberikan
bonus kepada para pemain timnas.
Hal tersebut
disampaikan langsung oleh Sekjen PSSI, Ade Wellington. Menurut Ade, keinginan
memberikan bonus disampaikan langsung oleh Ketua Umum PSSI yang baru,
Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi.
Ade
mengungkapkan, Edy menilai bonus sudah jadi hal yang wajib diberikan PSSI
kepada para pemain Timnas Indonesia yang berjuang dengan keras di Piala AFF
2016. Menurut Ade, Edy merasa para pemain timnas sangat layak mendapatkannya.
"Bonus
akan kami berikan, apalagi kalau nanti bisa juara. Leg pertama akan kami kasih
bonus, juara juga (akan dapat bonus yang lain)," kata Ade saat konferensi
pers di Kantor PSSI, Kuningan, Jakarta, Selasa (29/11/2016).
"Itu bukan
permintaan (para pemain Timnas Indonesia). Kata Pak Ketum, kami memang harus
kasih bonus itu," sambungnya.
Belum diketahui
berapa nominal bonus yang akan diberikan PSSI kepada para pemain Timnas
Indonesia, baik itu bonus leg pertama maupun juara. Ade menyatakan, untuk
nominal bonus baru akan dikabarkan kemudian. [http://bola.okezone.com]
Dari kasus
diatas dapat diketahui bahwa Ketua PSSI yakni Pangkostrad TNI Letjen Edy
Rahmayadi, akan memberikan bonus kepada pemain Timnas jika mereka berhasil memenangkan
pertandingan. Hal tersebut sesuai dengan gaya kepemimpinan transaksional
menurut Bass, dimana pemimpin akan memberikan imbalan kepada bawahannya jika
mereka telah mengerjakan tugas yang diberikan sebagai salah satu motivasi kerja
mereka.
Kepemimpinan
Transformasional
Bass (1985)
mendefinisikan kepemimpinan transformasional didasarkan pada pengaruh dan hubungan
pemimpin dengan pengikut atau bawahan. Para pengikut merasa percaya, mengagumi,
loyal dan menghormati pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang
tinggi untuk berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi. Seorang pemimpin transformasional
dapat memotivasi para pengikutnya dengan tiga cara (Yukl, 1998), yaitu:
a)
Membuat
mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil‐hasil suatu pekerjaan,
b)
Mendorong
mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri,
dan
c)
Mengaktifkan
kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.
Bass
(1985, 1990), Avolio & Bass (1995) mengemukakan bahwa kepemimpinan
transformasional memiliki empat karakteristik, yaitu: karisma, inspirasional,
stimulasi intelektual dan perhatia individual. Walaupun seringkali Bass
menambahkan satu karakteristik lagi yang merupakan perluasan dari karisma,
yaitu idealized influence.
Contoh
Kasus:
MAKASSAR —
Munculnya Dr. Ir. H. Abdul Rivai Ras, MS. MM. M.Si dalam perhelatan Pilgub
Sulsel 2018 mendatang, cukup fenomenal. Maklum, Rivai Ras dianggap reinkarnasi Gubernur
Sulsel pertama, Kolonel A.A. Rivai.
Dalam berbagai
kesempatan dan posisi jabatan, Rivai Ras di lingkungan dia bekerja mulai
lingkungan lembaga militer, Kementerian Pertahanan, Kementerian Sekretariat
Negara, dan Sekretariat Militer Presiden, hingga sebagai akademisi di
Universitas Indonesia (UI). Rivai juga merupakan Kepala Program Pascasarjana
Studi Keamanan Maritim Unhan, selalu menunjukkan gaya kepemimpinan
transformasional.
Rivai dalam
kesehariannya, selalu membangun gaya kepemimpinan yang berupaya
mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi
dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, Rivai selalu
mengharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun, sehingga
muncul iklim saling percaya di antara anggota yang berada di dalam lembaga itu.
Dalam wawancara
terpisah, Rivai memberi tanggapan tentang kebutuhan pemimpin yang seharusnya
muncul dalam era mendatang di Sulsel. “Masyarakat Sulsel itu sangat dinamis dan
cukup dihargai dengan budaya siri. Sehingga pemimpinnya harus mampu
mengartikulasikan pentingnya mengembangkan kearifan lokal yang bermartabat.
Juga mengedepankan kebanggaan Sulsel atau local pride sebagai nilai penting
yang harus diangkat dan dijabarkan sebagai pemimpin yang pro rakyat,” papar
Alumni Pondok Pesantren IMMIM Putra Modern itu. [http://fajar.co.id]
Dilihat dari
bagaimana cara Rivai yang selalu mengharapkan hubungan baik antar anggota
organisasi sehingga akan muncul iklim saling percaya dan bagaimana ia ingin
mengedepankan Sulawesi Selatan, terlihat jelas bahwa ia memang memiliki gaya
kepemimpinan transformasional seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-nahiyah-jaidi-mpd/materi-kepemimpinan-leadership-s1-2011.pdf
file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan.pdf
Wagimo dan Ancok, D. Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional
dengan Motivasi Bawahan di Militer. Dalam Jurnal Psikologi Universitas Gajah
Mada, volume 32, No. 2, 112-127.
bola.okezone.com/read/2016/11/29/51/1554555/pssi-janjikan-bonus-jika-indonesia-menang-di-leg-pertama