Minggu, 16 Juli 2017

PERANAN PSIKOTERAPI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT



Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa psikoterapi merupakan sebuah metode yang dilakukan untuk menangani masalah individu yang berkaitan dengan emosi, pikiran, ataupun perilaku. Saat ini psikoterapi sendiri sudah cukup banyak dikenal dan dilakukan oleh masyarakat. Meskipun memang di beberapa negara termasuk Indonesia masih merasa bahwa hanya orang-orang yang benar-benar memilki “gangguan kejiwaan”lah yang pantas untuk melakukan psikoterapi ini. Namun tidak sedikit pula masyarakat yang merasa butuh akan psikoterapi ini. Lalu bagaimanakah sebenarnya peran psikoterapi dalam masyarakat?
Dalam banyak kasus, beberapa penyakit atau gangguan tidak bisa diatasi hanya dengan meminum obat. Terkadang psikoterapi ini lah yang membantu mempercepat pengobatan. Misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh Hanati N yang berjudul “Peranan Psikoterapi pada Program Terapi Rumatan Metadon di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar” didapatkan hail bahwa psikoterapi berperan mengurang konsumsi obat atau dosis yang diberikan pada pasien. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang mengalami suatu masalah, penyakit, ataupun gangguan tidak harus selalu tergantung kepada obat. Namun ternyata mereka juga bisa mengatasi permasalahannya dengan psikoterapi.
Selain membantu individu untuk tidak bergantung pada obat-obatan, pada beberapa gangguan psikoterapi juga bisa dilakukan oleh individu itu sendiri tanpa didampingi oleh terapis. Misalnya seperti seseorang yang mengalami kecemasan, maka dalam sesi terapi terapis akan membantu klien untuk bisa membuat dirinya rileks dengan cara tertentu. Sehingga ketika tiba-tiba klien tersebut cemas, ia bisa menggunakan teknik rileks yang telah diajarkan oleh terapis sebelumnya. Dan itu membuat klien mandiri dan tidak bergantung pada perlakuan terapis.
Dalam peranan yang lebih luas dalam masyarakat seperti pada keluarga, organisasi, dan sebagainya biasanya psikoterapi membantu mereka dalam permasalahan komunikasi. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sebuah hubungan sosial. Faktanya psikoterapi memang membantu masyarakat dalam mengatasi kesulitan atau permasalahan komunikasi antara satu individu dengan individu lainnya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Noviza dan Koentjoro (2014) yang berjudul “Efektivitas Psikoterapi Interpersonal untuk Menurunkan Depresi pada Remaja Putri dengan Orangtua Bercerai” yang mendapatkan hasil bahwa salah satu dari subjek yang mereka teliti memiliki komunikasi yang lebih baik dengan orangtuanya setelah menjalan psikoterapi tersebut. Dan juga bisa mengetahui cara berkomunikasi yang efektif meskipun subjek tersebut masih remaja. Hal tersebut mutlak diperlukan setiap individu karena biasanya permasalahn sosial yang terjadi banyak disebabkan oleh buruknya komunikasi antara pihak-pihak yang berseteru.
Hal-hal diatas merupakan sedikit dari peran psikoterapi dalam masyarakat. Karena jika diteliti lebih dalam lagi maka banyak sekali peran psikoterapi yang ada di masyarakat. Namun perlu digaris bawahi bahwa keberhasilan psikoterapi tergantung dari keinginan individu tersebut untuk mengatasi permasalahannya. Sehingga tidak sedikit pula psikoterapi yang nyatanya belum berperan secara maksimal ditengah masyarakat, terlebih lagi adanya perbedaan latar belakang budaya masyarakat itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
N, Hanati. (2014). Peranan Psikoterapi pada Program Terapi Rumatan Metadon di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Denpasar: Medicina. Vol. 4, no. 1.
Noviza dan Koentjoro. (2014). Efektivitas Psikoterapi Interpersonal untuk Menurunkan Depresi pada Remaja Putri dengan Orangtua Bercerai. Yogyakarta: Jurnal Psikologi Intervensi. Vol. 6, no. 1.

[VIDEO] CONTOH PENGGUNAAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS IN VIVO







Dalam video tersebut klien mengalami gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Klien memiliki pikiran obsesif terhadap kebersihan, sehingga ia merasa cemas ketika menggenggam sesuatu. Karena rasa cemas itu klien akan terus menerus atau secara kompulsif membersihkan dirinya ketika ia merasa bahwa dirinya kotor setelah terkena benda tersebut. Selama ini klien menggunakan sarung tangan ketika hendak menggenggam sesuatu.
Dalam masalah tersebut terapis menggunakan teknik desensitisasi sistematis in vivo, yaitu dengan melibatkan keberadaan klien tersebut secara aktual pada situasi-situasi dalam hirarki kecemasannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desensitisasi sistematis ini merupakan teknik terapi yang bertujuan untuk mengurangi, menghambat, dan menghilangkan respon secara bertahap dengan memunculkan respon yang berlawanan.Dalam hal ini respon yang akan dihilangkan adalah respon cemas yang mengakibatkan klien bersikap kompulsif.
Yang pertama dilakukan oleh terapis dalam video tersebut adalah meminta klien untuk mengambil sebuah tali pengikat anjing yang telah dia bawa dari rumah. Kemudian terapis meminta klien untuk memegangnya selama beberapa menit. Selanjutnya terapis menanyakan level kecemasan menurut klien setelah memegang tali tersebut dari 1-100. Dan klien pun menjawab bahwa level kecemasannya saat itu adalah 60.
Setelah beberapa waktu terapis meminta klien untuk lebih mendekatkan tali itu ke tubuhnya. Dan klien ditanya lagi berapa level kecemasan setelah dia mendekatkan tali anjing tersebut ke tubuhnya. Klien pun menjawab 65. Kemudian terapis bertanya kepada klien apa saja menurutnya yang terdapat di tali itu. Klien menjawab bahwa dia mencium bau tidak sedap seperti saliva anjing atapun kotoran anjing. Atas jawaban tersebut terapis meminta klien untuk menyentuh bagian yang menurutnya terdapat saliva atau kotoran anjing. Setelah itu ditanya lagi level kecemasannya, yaitu 90.
Dalam video tersebut terlihat jelas bahwa terapis selalu memberikan respon yang membuat klien rileks setelah melakukan hal-hal yang membuat dirinya cemas. Dengan begitu terapis bisa melanjutkan perlakuan pada tahap yang semakin tinggi. Misalnya setelah meminta klien untuk menyentuh bagian yang kotor tersebut, klien diminta untuk mengusapkan tali anjing ke bagian tubuhnya seperti yang telah dicontohkan oleh terapis sebelumnya. Selain itu juga terapis meminta klien untuk mengalungkan tali itu ke lehernya bahkan menciumnya.
Peran terapis untuk terus memberikan dukungan sehingga klien rileks sangatlah dibutuhkan. Dengan begitu klien bisa menghadapi keadaan dari yang tidak terlalu membuatnya cemas, sampai yang sangat membuat dirinya cemas.
Dalam video tersebut juga terlihat hirarki kecemasan pada klien. Dari mulai hanya memegang tali itu dengan level kecemasan 60 hingga menyentuh bagian terkotor dengan level 90. Namun setelah itu klien tetap berhasil menghadapinya dan terus melakukan ke tahap selanjutnya. Setelah sesi terapi selesai, terapis memberikan tugas untuk klien di rumahnya. Seperti memegang benda-benda tanpa sarung tangan dan sebagainya.

TEKNIK TERAPI DESENSITISASI SISTEMATIS



Desensitisasi sistematis merupakan sebuah terapi yang bertujuan untuk mengurangi, menghambat, dan menghilangkan respon secara bertahap dengan memunculkan respon yang berlawanan. Desensitisasi sistematis dikembangkan oleh Joseph Wolpe (1969) yang bertumpu pada fakta bahwa seseorang tidak dapat serempak merasa cemas dan rileks. Wolpe menggunakan relaksasi sebagai cara mengimbangi stimulus yang ditakuti. Teknik desensitisasi sistematis ini merupakan teknik yang cocok digunakan untuk menangani fobia-fobia, kecemasan dan ketakutan. Teknik ini bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan terhadap ujian, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.
Dalam teknik desensitisasis sistematis terdapat dua poin dalam pelaksanaannya, yaitu extinction dan counter conditioning. Extinction merupakan proses penghilangan respon kecemasan karena telah dicounter dengan relaksasi. Sedangkan counter conditioning merupakan proses dimana terapis menyajikan stimulus yang menyenangkan atau merelaksasi individu kemudian membuat kondisi baru dengan mengganti rasa cemas menjadi rileks.
Desensitisasi sistematis terdiri dari tiga tahap, yaitu melatih relaksasi otot secara mendalam, menyusun hierarki kecemasan, dan mengkhayalkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan yang diimbangi dengan relaksasi. Untuk latihan relaksasi otot secara mendalam digunakan modifikasi prosedur dari Jacobson (1934). Pasien diajarkan untuk relaks dengan menegangkan kemudian mengendurkan otot progresif. Tingkatkan stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus penghasil kecemasan dan respon kecemasan itu akan terhapus.
Selain dengan meminta klien untuk membayangkan mengenai stimulus-stimulus yang ditakutinya, teknik desensitisasi sistematis juga bisa digunakan dengan melibatkan keberadaan individu tersebut secara aktual pada situasi-situasi dalam hirarki kecemasannya. Teknik itu disebut dengan desensitisasi sitematis in vivo. Teknik jenis ini digunakan jika individu memiliki kesulitan menggunakan imajinasinya atau tidak mengalami kecemasan selama melakukan imajinasi. Kesulitan dalam teknik in vivo adalah individu sering sulit mencapai keadaan rileks ketika melakukan kegiatan tersebut secara simultan, terutama jika menggunakan respon counter conditioning untuk mengurangi kecemasannya.
Adapun prosedur pelaksanaaan teknik desensitisasi sistemais yang telah dikemukakan oleh Wolpe adalah sebagai berikut:
a)  Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang dapat membangkitkan kecemasan ujian. Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan konseli dalam area tertentu.
b)     Konselor dan konseli mendaftar hasil-hasil apa saja yang menyebabkan konseli diserang perasaan cemas dan kemudian menyusunnya secara hirarkis.
c)      Konselor melatih konseli untuk mencapai keadaan rileks atau santai.
d)     Konselor melatih konseli membentuk respon-respon antagonistik yang dapat menghambat perasaan cemas.
e)      Pelaksanaan teknik desensitisasi sistematis, prosesnya melibatkan keadaan dimana konseli sepenuhnya santai dengan mata tertutup.

DAFTAR PUSTAKA
Tresna, Gede I. (2011). Efektifitas Konseling Behavioral dengan Teknik Desnsitisasi Sistematis untuk Mereduksi Kecemasan Menghadapi Ujian. http://jurnal.upi.edu/file/9-I_Gede_Tresna.pdf diakses pada 16 Juli 2017.
Mustika, D.D., Yusmansyaah, dan Rahmayanthi, R. Penggunaan Taknik Desensitisasi Sistematis untuk Mnegurangi Kecemasan Calon Mahasiswa dalam Mneghadapi SBMPTN. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=289206&val=1571&title=PENGGUNAAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS UNTUK MENGURANGI KECEMASAN CALON MAHASISWA DALAM MENGHADAPI SBMPTN diakses pada 16 Juli 2017
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius