Minggu, 09 April 2017

JENIS-JENIS PSIKOTERAPI DALAM TIGA MAZHAB (PSIKOANALISA, BEHAVIORISTIK, HUMANISTIK)



PSIKOANALISA
Hasil gambar untuk psikoanalisa 
(source: google image) 


Psikoanalisa pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud pada tahun 1896. Secara umum psikoanalisa merupakan suatu pandangan baru tentang manusia pada abad 20-an, dimana ketidaksadaran memainkan peranan sentral. Pandangan psikoanalisa ini dapat digunakan dalam mengobati klien-klien yang mengalami gangguan psikis. Menurut psikoanalisa masalah psikologis bersumber dari konflik bawah sadar antara id, ego, dan super ego. Karena pandangan tersebutlah maka tujuan terapi dalam psikoanalisa adalah untuk membawa konflik-konflik bawah sadar ke atas kesadaran. Dan tugas dari terapis adalah menciptakan kondisi dimana ego menjadi lebih rileks dan menginterpretasikan simbol-simbol tersamar dari alam bawah sadar kepada klien. Berikut beberapa teknik terapi dalam mazhab psikoanalisa:

1.      Free Association (Asosiasi Bebas)
Metode asosiasi bebas merupakan metode yang digunakan oleh Freud dimana klien diminta untuk mengatakan apapun yang datang ke pikiran klien sehingga memungkinan isi dari pikiran bawah sadar untuk masuk melewati sensor ego. Dengan kata lain asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis dimasa lampau.
Freud berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, maka dari itu sebenarnya menurut Freud ketika klien jujur maka terapis pun akan dapat menyelami pikiran yang bebas dari klien. Namun dalam prakteknya penggunaan asosiasi bebas ini belum membuat Sigmund Freud puas karena masih banyak isi dari ketidaksadaran yang ternyata tidak dapat dikeluarkan oleh klien sehingga membatasi dalam penyembuhan.
2.      Dream Interpretation (Interpretasi Mimpi)
Freud berpikir bahwa isi ketidaksadaran dapat pula timbul dalam mimpi. Mimpi merupakan suatu produk psikis, maka bisa dikatakan bahwa mimpi sebagai keinginan tidak sadar yang muncul dalam kesadaran. Dalam metode ini klien diminta untuk menceritakan mimpi yang saat itu diingat olehnya, kemudian terapis akan menghubungkan antara berbagai kejadian dalam mimpi klien.
3.      Interpretation of Resistence
Resisten merupakan reaksi oposisi dari klien terhadap proses psikoanalisa. Dalam pelaksanaan terapi klien bisa saja menolak untuk mengeluarkan isi dari pikiran-pikirannya sehingga terapis tidak bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran bawah sadar klien. Reaksi resisten dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu secara samar-samar dan jelas. Reaksi ini muncul secara samar-samar ketika klien diam-diam menyembunyikan pikiran yang sebenarnya ataupun klien berbohoong kepada terapis ketika bercerita. Dan secara jelas ktika klien dengan jelas menolak untuk menceritakan pengalamannya kepada terapis.
4.      Interpretation of Transference
Transference merupakan fenomena dalam psikoanalisa dimana klien diminta untuk merasakan dan bersikap terhadap terapis dengan cara yang sama dengan apa yang dia lakukan terhadap figur dewasa lain yang signifikan baginya.
5.      Katarsis (hipnosa)
Metode katarsis ini diperoleh dari dokter Josep Breuer. Metode hipnosa merupakan suatu metode untuk menjadikan klien setengah sadar atau berkurang kesadarannya sehingga lebih mudah dilihat isi dari alam ketidaksadarannya. Menurut dr. Breure berdasarkan metode katarsis itu telah terbukti adanya kaitan antara ingatan-ingatan yang dilupakan dengan gejala-gejala historis.




BEHAVIORISTIK
 
Steven Jay Lynn dan John P. Garske (1985) menyebutkan bahwa di kalangan konselor/psikolog, teori dan pendekatan behavior sering disebut sebagai modifikasi perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior therapy), sedangkan menurut Carlton E. Beck (1971) istilah ini dikenal dengan behavior therapy, behavior counseling, reinforcement therapy, behavior modification, contingency management. Istilah pendekatan behavior pertama kali digunakan oleh Lindzey pada tahun 1954 dan kemudian lebih dikenalkan oleh Lazarus pada tahun 1958.
Berdasarkan pada hakikat manusia, teori dan pendekatan behavior menganggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol yang terbatas. Manusia memulai kehidupannya dan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola perilaku yang akan membentuk kepribadian, yang juga ditentukan oleh intensitas dan beragamnya jenis penguatan (reinforcement) yang diterima.
Dalam konsep behavior, perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar. Dimana proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya. Dalam metode ini terapis membantu konseli menghilangkan perilaku abnormal, mempelajari perilaku adaptif dan mengubah kognisi yang tidak sesuai.
Terdapat beberapa teknik yang digunakan dalam terapi behavior ini, yaitu:

a)      Teknik operant conditioning:
Prinsip-prinsip kunci dalam behavioral adalah penguatan positif, penguatan negatif, extinction, hukuman positif dan hukuman negatif.
b)      Model asesmen fungsional:
Blueprint bagi konselor dalam memberikan intervensi yang diperlukan oleh konseli. Langkah-langkah yang disiapkan konselor dilakukan tahap demi tahap dalam memberikan perlakuan.
c)      Relaxation training and related methods:
Teknik yang dipakai untuk melatih konseli agar melakukan relaksasi. Dalam pelaksanaannya konselor dapat memodifikasi teknik ini dengan systematic desentisization, asertion training, self management programs. Teknik ini tepat digunakan untuk terapi-terapi klinis.
d)     Systematic desentisization:
Teknik yang tepat untuk terapi bagi konseli yang mengalami phobia, anorexia nervosa, depresi, obsesif, kompulsif, gangguan body image.
e)      Exposure therapies:
Variasi dari exposure therapies adalan in vivo desentisization dan flooding, teknik terapi ini dengan memaksimalkan kecemasan/ketakutan konseli .
f)       Eye movement desentisization and reprocessing:
Untuk membantu konseli yang mengalami post traumatic stress disorder.
g)      Assertion training:
Metode ini didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif perilaku. Ditujukan bagi konseli yang tidak dapat mengungkapkan ketegasan dalam dirinya.
h)      Self-management programs and self-directed behavior:
Terapi bagi konseli untuk membantu terlibat dalam mengatur dan mengontrol dirinya.
i)        Multimodal therapy

HUMANISTIK


Humanistik memandang manusia sebagai makhluk rasional, bertujuan, otonom, kreatif, dan mampu mencapai insight terhadap realita. Asumsi dasar dalam pendekatan humanistik, yaitu (1) Manusia pada dasarnya baik; (2) manusia memiliki free will untuk mengaktualisasikan potensinya di masa depan apabila berada dalam kondisi lingkungan yang mendukung; (3) Setiap manusia itu unik dan memiliki doongan dasar untuk mencapai aktualisasi diri.

Hasil gambar untuk maslow hierarchy of needs 
 (source: google image)
Menurut Maslow sebagian besar orang sukar melampaui tahap kebutuhan akan cinta kasih, karena itu terapis harus mengembangkan relasi yang terbuka dan hangat kepada klien. Dalam hal ini maka tujuan terapi adalah untuk mengurangi rasa ketergantungan kepada orang lain dan untuk memotivasi individu menuju aktualisasi diri.
Sedangkan Rogers dengan Client Centered Therapy (1946) menyatakan bahwa pertumbuhan kesadaran bukan dari interpretasi, melainkan dari rasa aman klien untuk mengeksplorasi emosi-emosi tersembunyi dalam setiap sesi terapi. Berdasarkan hal tersebut maka terapis harus memiliki kualifikasi, diantaranya terapis harus memiliki kepribadian yang hangat, secara murni menyukai klien dan menerima tanpa syarat segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan atau dilakukan oleh klien tanpa mengkritiknya, serta terapis pun harus memiliki empati pada setiap klien yang melakukan terapi.
Terdapat beberapa teknik dalam terapi humanistik, yaitu:

1.      Content Analysis : Mengambil ini dari rekaman pernyataan klien untuk ditabulasikan.
2.      Rating Scales : Serangkaian pernyataan yang berisi karakteristik yang akan diukur dengan cara menggambarkan kekuatan atau kelemahan dari karakteristik tersebut dalam suatu kontinum.
3.      Q-Sort Procedure : Klien diberi tumpukan kartu atau kertas yang berisi berbagai pernyataan lalu diminta untuk menyusun pernyataan-pernyataan tersebut dalam suatu kontinum dari yang paling sesuai sampai yang paling tidak sesuai untuk enggambarkan dirinya.



DAFTAR PUSTAKA

ocw.upj.ac.id/files/Slide-PSI-103-Psikologi-Umum-II-Terapi-Psikologis.pdf
library.walisongo.ac.id/digilib/download.php?id=10438
digilib.uinsby.ac.id/10126/6/bab%202.pdf
cleostudies.lecture.ub.ac.id/files/2014/03/05_Pendekatan-eksistensialis-humanistik.pdf