Minggu, 04 Januari 2015

Tolong Tutup Mulut Ketika Sedang Menguap




Hal-hal sepele biasanya diabaikan banyak orang. Padahal tidak semua hal sepele benar-benar sepele. Maksudnya, ada hal sepele yang ternyata menyebabkan dampak yang cukup besar. Dan kita tidak menyadarinya.

Contohnya saja menguap. Menguap itu memang hal wajar yang pasti dialami setiap orang. Dari anak-anak hingga dewasa. Bisa juga disebut sifat naluriah manusia. Menguap merupakan refleks pernafasan untuk menarik lebih banyak oksigen kedalam aliran darah. Orang yang menguap biasanya tidak sadar. Tiba-tiba ingin saja menguap.

Disini saya tidak akan membahas mengapa manusia menguap atau proses menguap itu seperti apa. Saya hanya ingin berpendapat mengenai-mungkin bisa dibilang-tata cara menguap. Memang menguap ada tata caranya? Loh jelas ada. Kita hidup di dunia ini tidak seorang diri melainkan dengan banyak orang.

Apa hubungannya dengan orang lain? Tentu ada. Oke kita bahas satu persatu. Check it out!

Coba ingat kembaili ketika kita menguap apakah hanya membuka mulut saja atau dengan menutup mulut? Bersuara atau tidak bersuara? Bagi yang menutup mulut dan tidak bersuara, selamat anda telah membantu memberikan kedamaian kepada sekitar. Bagi yang belum coba anda bayangkan, ketika kita menguap dengan suara yang cukup kencang dan menganga selebar-lebarnya apakah tidak mengganggu orang lain di dekat kita?

Saya pribadi sangat terganggu dengan hal itu. Mendengar suara orang ketika menguap tidak terlalu masalah bagi saya (tidak tahu bagi yang lain), namun menguap yang terlalu lebar itu yang menurut saya menjadi masalah. Kenapa? 

Apakah kita yakin mulut kita ini berbau harum? Layak dicium orang di sekitar kita? Ini salah satu etika yang harus kita perhatikan. Bisa jadi banyak orang yang terganggu dengan bau mulut kita ketika kita sedang menguap dan membuka mulut kita lebar-lebar. Mungkin ada beberapa orang di dekat kita yang sedikit menjauhi kita, namun ada pula orang yang benar-benar terdesak dan tidak bisa jauh menjauhi kita, di dalam kereta atau mobil misalnya.

Bayangkan saja jika kita menjadi orang itu. Mencium bau yang tidak sedap keluar dari mulut orang yang sedang menguap tanpa menutup mulutnya. Bahkan islam menganjurkan kita untuk menahan ketika hendak menguap.

“Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)

Jika tidak bisa ditahan hendaknya menutup mulutnya dengan tangan kiri.

Jadi menguap itu ada etika atau adabnya. Jika saat ini belum terbiasa menahan, tak apa menguap saja. Namun saran saya tutup mulut kita dan jangan bersuara. Sepele memang, tetapi hal ini sangat penting. Ingat, tidak hanya diri kita saja yang ingin nyaman tetapi juga orang lain. Jadi cobalah untuk memberikan kenyamanan pada orang lain dari hal sepele, seperti menguap.

-Rusma Desinta-

Menggunakan Earphone Ketika Berkendara? Think Again!





Dewasa ini banyak bermunculan teknologi super canggih yang bisa kita gunakan. Entah untuk hiburan, pekerjaan, atau mungkin hanya sekedar koleksi. Banyak dari kita yang pasti ingin merasakan kecanggihan alat tersebut. Berlomba-lomba untuk memilikinya meski hanya karena rasa penasaran. Misalnya seperti handphone (HP), alat komunikasi yang saat ini digunakan hampir semua orang di seluruh dunia. Di segala usia dan tingkat megenal tingkat ekonomi. 

Bicara tentang kecanggihan handphone saat ini, tak lepas dari salah satu alat pelengkapnya yaitu earphone. Siapa yang tak mengenal earphone? Alat yang mengubah energi listrik menjadi gelombang suara, yang digunakan dengan disumpalkan ke dalam telinga. Sepertinya alat ini pun dimiliki hampir setiap orang. Digunakan untuk mendengarkan musik, radio, atau untuk menerima panggilan di handphone.

Memang sangat bermanfaat ketika kita memiliki earphone. Namun nyatanya earphone pun dapat membahayakan jika kita tidak bijak dalam menggunakannya. Pernah ada sebuah kasus kecelakaan yang disebabkan karena korban menggunakan earphone ketika sedang berkendara. Ia tidak mendengar suara peringatan palang pintu kereta. Dan ia pun terus melaju kencang ke tengah rel hingga datangnya kereta. Tentu dapat dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Tertabrak dan meninggal seketika.

Masih banyak kasus lain yang dapat kita jadikan pelajaran agar kita dapat dengan bijak menggunakan earphone. Tidak hanya earphone sebenarnya, tetapi semua alat pun harus kita gunakan dengan bijak. Karena jika tidak keselamatan kita yang terancam.

Dari kasus di atas, memang benar adanya ketika orang memiliki earphone banyak diantara mereka yang menggunakannya ketika sedang mengemudikan kendaraan. Katanya agar di jalan tidak bosan sehingga mereka menggunakan alat itu untuk mendengarkan musik. Ada juga yang mengatakan earphone digunakan saat berkendara karena ada panggilan mendesak, sehingga harus menerima panggilan saat itu juga (saat berkendara).

Saya kira alasan itu kurang masuk akal. Seharusnya mereka menyadari ketika mereka menyumpal telinga mereka bisa jadi mereka tidak mendengar bunyi klakson dari pengendara dibelakang mereka. Dan itu tidak hanya merugikan mereka tetapi juga pengendara lain. Bayangkan saja jika ternyata ada yang merasa dirugikan karena kita tidak mendengar klakson mereka. Bisa disumpahi kita karena mereka dirugikan!

Cobalah berpikir ulang. Berkendara itu ada etikanya. Bukan hanya kita yang berkendara di jalan, tetapi ribuan bahkan jutaan orang lain yang juga menggunakan jalan yang sama. Jika ingin mendengarkan musik lebih baik ditunda saja hingga sampai di tempat tujuan. Dan jika ingin menerima panggilan lebih baik melipir sebentar dan berhenti untuk menerima panggilan tersebut. Toh ini demi keselamatan kita bukan? Juga keselamatan orang lain.

Sebenarnya mudah jika kita memang ingin melakukannya. Bukan mencari alasan atau pembenaran untuk tetap menggunakan earphone saat mengemudikan kedaraan. So, think again! Bijaksanalah menggunakan kecanggihan teknologi. Karena jika tidak, bisa mengancam dirimu sendiri.  

-Rusma Desinta-

Film Untuk Anak? (Ayo Lindungi Generasi Penerus Kita!)





Anak-anak merupakan aset berharga untuk kita semua. Mengapa? Karena merekalah generasi penerus kita. Mereka pula yang akan melanjutkan perjuangan kita membangun peradaban di dunia ini. Maka dari itu sangatlah penting memberikan pendidikan pada anak, termasuk bagaimana cara memberikan hiburan pada mereka. 

Ya tentu saja usia anak-anak sedang asyik-asyiknya bermain, juga mempelajari hal yang baru. Karena itu pengawasan orangtua perlu di tingkatkan pada masa ini. Mengapa demikian? Coba perhatikan apa salah satu hiburan anak saat ini? Ya, salah satunya tentu televisi. Mereka bisa duduk lama di depan layar televisi, bahkan berjam-jam untuk menonton film kesukaan mereka. 

Hal tersebut memang wajar ketika ada batas waktunya. Wajar pula ketika film yang mereka konsumsi hampir setap hari itu memang layak untuk mereka. Namun bagaimana jika film tersebut tidak layak untuk anak-anak seusia mereka? 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini perfilman di Indonesia kurang memihak pada anak-anak. Hanya saat jam tertentu saja anak-anak bisa menonton film khusus untuk mereka, seperti kartun misalnya. Ada juga talkshow anak di beberapa stasiun televisi. Namun tentu saja tak lebih banyak dibanding film dewasa.

Film dewasa banyak macamnya. Dari yang benar-benar khusus untuk dewasa hingga yang berkedok anak-anak atau remaja namun beradegan dewasa. Film seperti inilah yang harus diperhatikan oleh semua orangtua. Bagaimana tidak, menurut ilmu psikologi anak merupakan peniru terbaik. Mereka mengatakan apa yg mereka dengar, meniru gerak orang yg mereka lihat dan bagaimana menggunakan tangan, ekspresi wajah dan suara yg mereka dengar untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Bayangkan saja jika anak-anak saat ini telah diberi contoh yang tidak baik, seperti film yang mengandung adegan yang tidak seharusnya mereka lihat. Berpelukan, berciuman, pacaran, atau kebanyakn film saat ini mengangkat tema tentang percintaan remaja, yang sebetulnya jika kita lihat lebih dalam lagi itu bukan merupakan percintaan remaja tetapi dewasa. Bayangkan jika anak berumur tujuh tahun misalnya, atau anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) meniru adegan serupa. Sungguh miris bukan?

Tetapi saat ini memang sudah banyak anak “hasil produksi” film dewasa itu. Bisa kita lihat di sekeliling kita, mungkin bahkan saudara, adik, atau anak anda sendiri yang mengalaminya. Berkata kasar atau yang tidak pantas mereka ucapkan terdengar keluar dari bibir mereka. Ataupun melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, berpacaran di sekolah ketika masih SD misalnya. 

Maka dari itu sekali lagi saya tekankan kepada setiap orangtua untuk lebih mengawasi anak-anak anda. Tidak berlebihan, namun tetap dalam pengawasan. Saran saya dampingi mereka saat mereka sedang menonton televisi atau film apapun. Jangan malas memberi penjelasan mengenai apa yang mereka tonton, sisi positif dan negatifnya. Dan tentu saja batasi waktu menonton mereka.

Saya kira semua sepakat bahwa kita menginginkan generasi penerus yang lebih baik. Yang bisa memperbaiki kesalahan generasi saat ini di masa yang aka datang. Oleh karena itu jagalah generasi kita sebaik mungkin. Bantu mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Saya rasa tidak sulit jika kita mau melakukannya. Selamat mencoba :)

-Rusma Desinta-

Seminar Parenting (Be Smart Parents, Raise Brilliant Children!)






Sabtu, 20 Desember 2014
UI Depok – Meski bau pagi masih kental terasa, namun semangat para pemuda tetap jelas terasa. Cukup banyak mahasiswa yang datang pada pagi itu. Pukul 08.00 WIB mereka telah hadir di Auditorium Gedung H Fakultas Psikologi UI Depok untuk menghadiri seminar parenting  yang berjudul “Be Smart Parents, Raise Brilliant Children!”. Seminar ini merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Forum Ukhuwah dan Psikologi Islam Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yaitu PAGII (Psikologi Bicara Generasi Kini Untuk Nanti) dengan tema “Gue Hari Ini Gue Untuk Nanti”. 

Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas mengisi kursi kosong di dalam auditorium. Waktu dimulainya acara sedikit terlambat dan baru dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Seminar ini diisi oleh dua orang pembicara, yaitu Ustadz Budi Darmawan, S.Psi. dan Mommy Balqis. Sesuai dengan judul dari seminar parenting ini, maka para pembicara pun mengulas sedikit banyak tentang bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orangtua yang cerdas dalam mendidik anak sehingga menghasilkan generasi yang brilliant.
 
Seperti biasa acara dibuka dengan pembacaan tilawatil Qur’an oleh salah satu panitia dan dilanjutkan dengan beberapa sambutan. Setelah itu barulah acara inti dimulai, yaitu penjelasan materi yang disampaikan oleh pembicara. Ustadz Budi Darmawan terpilih sebagai pembicara yang pertama.

Bapak dari 13 anak yang semuanya merupakan hafizh Al Qur’an itu memulai materi dengan memberika sebuah quotes yang ditampilkan pada layar proyektor di hadapan semua peserta. “Orang yang tidak mengenal identitas dirinya tidak akan tau kemana ia akan pergi. Orang yang tidak tau kemana ia akan pergi hanya akan ada dua kemungkinan. Pertama, ia tidak akan pergi kemana-mana. Kedua, ia akan pergi kemana-mana”. Kalimat tersebut sebenarnya sederhana namun mempunyai makna yang sangat dalam. Beliau memberikan sebuah contoh, yaitu kisah Nasrudin Hoja. 

Kisah itu menggambarkan bagaimana “penyakit” manusia modern saat ini, yaitu krisis eksistensi. Krisis eksistensi ini ditandai dengan timbuknya rasa sedih tanpa sebab, begitu menurut beliau. Maka dari itu kita sebagai muslim harus mengetahui identitas islam sesungguhnya. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai lima sarana mendidik anak dalam islam dan macam-macam potret keluarga. Beliau juga mengatakan bahwa salah satu kebutuhan anak adalah kebutuhan untuk bangga kepada kedua orangtuanya. Karena itu merupakan dasar-dasar kehidupan seorang anak.

Setelah ustadz Budi Darmawan memaparkan materinya, kini tibalah waktunya Mommy Balqis untuk menjelaskan materi. Beliau yang merupakan edupreneur dan pemilik akun dari @babyhijaber itu membuka materinya dengan menegaskan bahwa setiap anak terlahir cerdas. “tugas orangtua hanyalah memfasilitasi dan mengarahkan si anak saja” begitu tuturnya. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan macam-macam kecerdasan alami, fungsi keluarga, dan bagaimana pola asuh yang efektif.

Sesi pertanyaan pun dibuka setelah kedua pembicara telah selesai menjelaskan materinya. Saat itu hanya dibatasi tiga orang penanya, yang ketiga-tiganya merupakan perempuan. Acara pun berakhir kurang lebih pukul 12.00 WIB. Ditutup dengan do’a dan pembagian hadiah untuk para penanya.

-Rusma Desinta-



Boleh Pacaran Gak Sih? (Reportase)




Rabu, 12 Nopember 2014
Masjid SC UIN- ‘Katanya cinta itu fitrah? Terus Kalo pacaran gimana? Kan kita punya perasaan? Cuma buat nambah semangat aja kok. Tapikaaann …’ Begitu banyak pertanyaan yang terbesit dalam pikiran pemuda-pemudi  muslim saat ini. Zaman dimana pacaran menjadi hal yang biasa, bahkan menjadi sebuah trend. Karena itulah ratusan mahasiswa dari berbagai universitas datang ke acara ini. Acara yang berjudul “Boleh Pacaran Gak Sih” dengan Ustadz Felix Siauw sebagai pembicara.

Acara dimulai pukul 16.00 WIB dan dibuka dengan tilawatil Qur’an yang dilantunkan oleh salah satu mahasiswa UIN yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai sambutan.  Hingga tibalah acara utamanya yaitu materi yang disampaikan oleh Ustadz Felix Siauw. Dalam pembukaannya beliau memaparkan mengenai perkembangan zaman yang kini telah berubah. “zaman telah berubah. Kalau dulu laki-laki itu pikirannya logis sedangkan perempuan emosional. Tapi sekarang justru kebalikannya. Laki-laki lebih emosional daripada perempuan. Bisa dilihat di berbagai sosial media” jelasnya. Semua audiens saat itu tertawa mendengar pernyataan dari beliau, tanda setuju. 

Acara yang didominasi oleh para muslimah itu kian serius ketika Ustadz Felix memaparkan beberapa wanita mulia di zaman Rasul. Diantaranya Khadijah, Maryam, Ummu Musa, dan masih banyak lagi. “Di balik laki-laki yang kuat pasti terdapat perempuan yang hebat. Maka dari itu wanita begitu mulia” tuturnya, membuat hampir seluruh akhwat (wanita) yang mendengarnya tersenyum.
Beliau juga menjelaskan bahwa saat ini islam diserang melalui para wanitanya. Mengapa? Karena saat ini wanita cenderung mendominasi dalam hal opini. Banyak wanita yang kemudian menjadi pusat perhatian karena opininya. Misalnya dalam parlemen atau bahkan dalam rumah tangga pun banyak dijumpai justru istri yang menjadi “kepala rumahtangga” karena begitu kuat opininya. Hal tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh kaum yang memang ingin menghancurkan islam. 

“Mereka merusak perempuan muslim dengan 3F. Apa itu?” tanyanya. Saat itu juga hampir semua audiens mengeluarkan suaranya, menjawab pertanyaan yang diajukan Ustadz Felix. “ya, 3F itu Food, Fashion, dan Fun” tuturnya. Beliau mengatakan bahwa perempuan itu senjata paling ampuh untuk merusak islam. Karena perempuan bertanggung jawab atas generasinya. Ketika perempuan rusak maka generasinya pun ikut rusak. Generasi yang didik oleh perempuan sebagai ibunya. 

Dan sampai pada inti pembahasan yang menjawab pertanyaan sekaligus judul dari acara ini, boleh pacaran gak sih? Ustadz Felix sebagai pemateri satu-satunya itu memaparkan beberapa fakta tentang wanita. “pada tahun 2006 51% wanita tidak perawan lagi, kemudian pada tahun 2008 62,7% remaja wanita SMP tidak perawan. Itulah efek pacaran. Memang tidak semua pacaran berujung pada hal itu, tetapi setiap zinah dimulai dari pacaran” jelasnya. Maka dapat disimpulkan bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan dalam islam.

Kemudian beliau menutupnya dengan beberapa nasihat. Maksiat itu tidak mungkin berujung bahagia. Ketika ada orang yang sudah bermaksiat sebelum menikah maka akan lebih mudah untuknya bermaksiat setelah menikah. Maka dari itu, beliau mengatakan bahwa kita harus mencari pasangan yang takut kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Karena ketika kita mencintai yang sama (Allah SWT) maka hubungan kita pun akan langgeng

Akhirnya tibalah di penghujung acara yang selesai sekitar pukul 18.00, sebelum adzan maghrib. Sontak semua audiens langsung berhamburan keluar setelah pembawa acara mentupnya dengan mengucapkan terimakasih dan berdo’a. Karena begitu banyaknya peserta yang hadir dalam acara tersebut saya pun mewawancarai salah satu peserta akhwat yang hadir. Ia berasal dari daerah Pamulang. Ia mengatakan bahwa ia tertarik dengan acara ini karena tema dari acara tersebut. “hal itu (pacaran) terlihat sepele dan banyak yang mengabaikannya padahal itu merupakan masalah yang sangat besar  makanya saya tertarik ikut acara ini” katanya. Ia juga mengatakan bahwa ia mendapat banyak ilmu dari acara tersebut. Salah satunya adalah kita sebagai wanita harus lebih bisa menjaga diri karena yang diserang adalah para wanita dan generasi penerusnya. Menurutnya, pacaran itu tidak ada manfaatnya jadi tidak perlu dilakukan, ditambah lagi pacaran memang tidak diperbolehkan dalam islam.

Tak lama kemudian adzan maghrib pun terdengar. Akhirnya kami semua yang masih berada di masjid SC UIN tersebut melaksanakan sholat maghrib berjama’ah. Dan saat itu pula hujan mengguyur wilayah UIN dan sekitarnya.

-Rusma Desinta-