A.
Aliran
Humanistik
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama
psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap
pengalaman dan tingkah laku manusia yang memusatkan perhatian pada keunikan dan
aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik adalah
alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi yang lainnya merupakan
pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalisis (Misiak
dan Sexton, 2005).
Salah satu pencetus teori ini adalah Carl Rogers. Ia
mengenalkan sebuah konsep kepribadian yang disebut fully functioning (pribadi yang berfungsi sepenuhnya). Fully functioning person ditandai dengan
adanya ciri pada individu sebagai berikut:
1.
Terbuka terhadap
pengalaman
2.
Ada kehidupan
pada dirinya
3.
Kepercayaan kepada
organismenya
4.
Kebebasan berpengalaman
5.
Kreativitas
Carl
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang
mengalami peghargaan positif tanpa syarat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika
seorang individu telah memiliki fully
functioning pada dirinya maka ia bisa dikatakan sehat secara mental. Mengapa?
Karena hal itu sesuai dengan pengertian kesehatan mental yang dikemukakan oleh
Federasi Kesehatan Mental Dunia (World
Federation of Mental Health) yang mengatakan bahwa kesehatan mental sebagai
kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yg optmal baik secara fisik,
intelektual, dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan keadaan orang lain.
Karena
ketika seseorang memiliki ke lima ciri tadi, maka ia memiliki perkembangan yang
optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional. Salah satu cirinya adalah
tidak defensif (sikap bertahan). Karena sikap defensif sangat bertolak belakang
dengan ke lima ciri tadi. Misalnya saja salah satu ciri dari pribadi yang
berfungsi sepenuhnya adalah terbuka terhadap pengalaman. Ini jelas sekali
ketika seseorang terbuka terhadap pengalaman, maka ia mau menerima pengalaman
yang diberikan pada hidupnya. Tidak tertutup dan tidak bersembunyi dibalik
peranannya seperti individu yang defensif. Sehingga ia dapat merasakan banyak “emosi”
yang negatif maupun positif dan dapat mengungkapkannya. Artinya ia berkembang
baik secara intelektual dan emosional. Begitupun pada ke empat ciri lainnya.
B.
Aliran
Psikoanalisis
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi
negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini
juga mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia, selain itu juga
berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens). Aliran
ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada
usia lima tahun.
Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga
komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil
interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting
kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah
laku. Id berorientasi pada prinsip kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian
yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego
merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat
mengenai baik-buruk atau benar-salah. Superego berfungsi untuk merintangi
dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego
untuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar
kesempurnaan.
Sebenarnya aliran ini mempelajari kepribadian yang
terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat. Misalnya saja Freud
mengungkapkan bahwa ketika id, ego, dan superego tidak bisa “bekerjasama” dengan
baik, maka akan timbul mekanisme pertahanan diri (defense mechanisme). Mekanisme pertahanan diri ini akan muncul
ketika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan dirinya akan sesuatu dan
akhirnya ia mengalami kecemasan. Karena kecemasan itulah individu akan menyusun
strategi agar ia tidak merasakan kecemasan itu lagi dengan menipu dirinya
sendiri, yaitu dengan defense mechanisme
ini.
Kecemasan yang menipu diri sendiri sehingga berakhir
pada timbulnya mekanisme pertahanan diri seseorang merupakan ciri bahwa keadaan
mentalnya sedang tidak sehat. Hal ini didasarkan pada tanda-tanda orang yang
sehat mentalnya menurut D.S Wright dan A. Taylor sebagai berikut:
1. Bahagia (happiness) dan terhindar dari
ketidakbahagiaan,
2. Efisien dalam
menerapkan dorongannya untuk kepuasan kebutuhannya,
3. Kurang dari
kecemasan,
4. Kurang dari rasa
berdosa (rasa berdosa merupakan refleks dari kebutuhan self-punishment),
5.
Matang, sejalan
dengan perkembangan yang sewajarnya,
6.
Mampu menyesuaikan
diri terhadap lingkungannya,
7.
Memiliki otonomi
dan harga diri,
8.
Mampu membangun
hubungan emosional dengan orang lain,
9.
Dapat melakukan
kontak dengan realita.
Dari
ke sembilan tanda diatas, sangat bertolak belakang dengan individu yang memiliki
kecemasan yang tinggi sehingga menimbulkan defense
mechanisme pada dirinya. Itu artinya bahwa ketika mekanisme pertahanan diri
muncul pada seseorang, apalagi mekanisme pertahan diri yang bisa sangat
merugikan bukan hanya diri nya tapi juga orang lain, itu berarti ia sedang
tidak sehat secara mental.
DAFTAR
PUSTAKA
Schultz,
D. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS