Kamis, 24 Maret 2016

PANDANGAN ALIRAN HUMANISTIK DAN PSIKOANALISIS TERHADAP KESEHATAN MENTAL

A.    Aliran Humanistik
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalisis (Misiak dan Sexton, 2005).

Salah satu pencetus teori ini adalah Carl Rogers. Ia mengenalkan sebuah konsep kepribadian yang disebut fully functioning (pribadi yang berfungsi sepenuhnya). Fully functioning person ditandai dengan adanya ciri pada individu sebagai berikut:
1.      Terbuka terhadap pengalaman
2.      Ada kehidupan pada dirinya
3.      Kepercayaan kepada organismenya
4.      Kebebasan berpengalaman
5.      Kreativitas

Carl Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami peghargaan positif tanpa syarat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang individu telah memiliki fully functioning pada dirinya maka ia bisa dikatakan sehat secara mental. Mengapa? Karena hal itu sesuai dengan pengertian kesehatan mental yang dikemukakan oleh Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation of Mental Health) yang mengatakan bahwa kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yg optmal baik secara fisik, intelektual, dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan keadaan orang lain.
 
Karena ketika seseorang memiliki ke lima ciri tadi, maka ia memiliki perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual dan emosional. Salah satu cirinya adalah tidak defensif (sikap bertahan). Karena sikap defensif sangat bertolak belakang dengan ke lima ciri tadi. Misalnya saja salah satu ciri dari pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah terbuka terhadap pengalaman. Ini jelas sekali ketika seseorang terbuka terhadap pengalaman, maka ia mau menerima pengalaman yang diberikan pada hidupnya. Tidak tertutup dan tidak bersembunyi dibalik peranannya seperti individu yang defensif. Sehingga ia dapat merasakan banyak “emosi” yang negatif maupun positif dan dapat mengungkapkannya. Artinya ia berkembang baik secara intelektual dan emosional. Begitupun pada ke empat ciri lainnya.


B.     Aliran Psikoanalisis
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini juga mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia, selain itu juga berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens). Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun. 

Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi pada prinsip kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai baik-buruk atau benar-salah. Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan.

Sebenarnya aliran ini mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat. Misalnya saja Freud mengungkapkan bahwa ketika id, ego, dan superego tidak bisa “bekerjasama” dengan baik, maka akan timbul mekanisme pertahanan diri (defense mechanisme). Mekanisme pertahanan diri ini akan muncul ketika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan dirinya akan sesuatu dan akhirnya ia mengalami kecemasan. Karena kecemasan itulah individu akan menyusun strategi agar ia tidak merasakan kecemasan itu lagi dengan menipu dirinya sendiri, yaitu dengan defense mechanisme ini.

Kecemasan yang menipu diri sendiri sehingga berakhir pada timbulnya mekanisme pertahanan diri seseorang merupakan ciri bahwa keadaan mentalnya sedang tidak sehat. Hal ini didasarkan pada tanda-tanda orang yang sehat mentalnya menurut D.S Wright dan A. Taylor sebagai berikut:
1.     Bahagia (happiness) dan terhindar dari ketidakbahagiaan,
2.     Efisien dalam menerapkan dorongannya untuk kepuasan kebutuhannya,
3.     Kurang dari kecemasan,
4. Kurang dari rasa berdosa (rasa berdosa merupakan refleks dari kebutuhan self-punishment),
5.      Matang, sejalan dengan perkembangan yang sewajarnya,
6.      Mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya,
7.      Memiliki otonomi dan harga diri,
8.      Mampu membangun hubungan emosional dengan orang lain,
9.      Dapat melakukan kontak dengan realita.

Dari ke sembilan tanda diatas, sangat bertolak belakang dengan individu yang memiliki kecemasan yang tinggi sehingga menimbulkan defense mechanisme pada dirinya. Itu artinya bahwa ketika mekanisme pertahanan diri muncul pada seseorang, apalagi mekanisme pertahan diri yang bisa sangat merugikan bukan hanya diri nya tapi juga orang lain, itu berarti ia sedang tidak sehat secara mental.

DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS




Kamis, 10 Maret 2016

KONSEP SEHAT DALAM 5 ASPEK


Secara umum sehat adalah keadaan normal baik pada fisik, mental, maupun sosial. Namun ternyata konsep sehat tidak hanya ada pada ketiga aspek tersebut (fisik, mental, dan sosial), namun juga ada beberapa aspek lainnya yang di identifikasikan sebagai konsep sehat. Berikut konsep sehat dalam lima aspek:

1.      Konsep sehat secara intelektual
Tentu banyak orang yang akan berpikir sehat secara intelektual berarti seseorang mampu untuk mendapatkan nilai akademis yang tinggi. Juga akan dikaitkan pada proses kognitif seseorang, terutama dilihat dari seberapa besar IQ yang dimiliki seseorang. Namun sebenarnya sehat secara intelektual tidak hanya dapat dilihat pada kemampuan akademisnya saja namun juga bagaimana seseorang bisa berpikir secara logis ataupun secara runtut. Juga menemukan problem solving yang tepat ketika ia menghadapi masalah.
Lebih jauh lagi, seseorang dikatakan sehat secara intelektual ketika ia memiliki tujuan hidup yang jelas, mengetahui bagaimana cara untuk meraihnya, dan tentu tidak pernah putus asa ketika ia gagal melainkan ia mengetahui bagaimana cara ia bangkit dan terus berjuang mencapai tujuannya. Selain itu, kreativitas seseorang juga bisa menjadi indikator seseorang sehat secara intelektual yaitu ketika ia memiliki daya kreasi yang luas. Jadi sehat secara intelektual tidak selalu berkaitan dengan hasil akademik tapi juga berpikir logis, dapat menyelesaikan masalahnya, memiliki tujuan hidup, dan memiliki daya kreativitas yang luas.

2.      Konsep sehat secara emosi
Semua orang pasti pernah merasakan sedih, marah, senang, dan sebagainya. Namun hanya bisa merasakan berbagai perasaan itu semua belum cukup untuk bisa dikatakan sehat secara emosi. Dengan kata lain, sehat secara emosi tidak hanya mampu merasakan berbagai macam perasaan namun juga harus bisa mengekpresikannya. Misalnya, ketika seseorang sedang marah ia bisa mengekspresikan kemarahannya, bukan malah memendamnya atau bahkan ia tidak mengetahui emosi apa yang sedang ia rasakan.

3.      Konsep sehat secara sosial
Konsep sehat secara sosial paling berbeda diantara konsep sehat lainnya. Karena sehat secara sosial tidak hanya melibatkan individu namun juga hubungannya dengan individu lain atau lingkungannya, dengan kata lain kaitannya dengan hubungan interpersonal seseorang. Seseorang bisa dikatakan sehat secara sosial ketika ia mampu beradaptasi di lingkungannya. Selain itu ia juga mampu untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat disekitarnya, yang akan membuat seseorang bisa menjadi toleransi dan saling menghargai terhadap sesamanya. Tidak membeda-bedakan suku, ras, agama, dan sebagainya. Sehat secara sosial juga bisa diihat dari seberapa baik hubungannya dengan orang terdekatnya, seperti keluarga, teman, guru, dan orang terdekat lainnya.

4.      Konsep sehat secara fisik
Sehat secara fisik memang paling mudah terlihat. Karena fisik merupakan objek yang nampak pada setiap makhluk. Sehat secara fisik merupakan pengertian umum bagi masyarakat untuk mendefinisikan “sehat” itu seperti apa. Dapat dikatakan sehat secara fisik ketika semua organ tubuh berfungsi secara normal. Seseorang tidak merasakan sakit pada tubuhnya dan memang secara klinis tgiak ada tanda-tanda atau gejala yang dianggap tidak normal. Hingga akhirnya bisa disimpulkan bahwa seseorang tidak mengalami gangguan fungsi tubuh.

5.      Konsep sehat secara spiritual
Konsep sehat ini sering dilupakan banyak orang yaitu sehat secara spiritual. Seseorang yang sehat secara spiritual terlihat dari bagaimana ia bisa merasakan eksistensi Tuhannya yang terwujud dari kegiatannya dalam beribadah. Juga terlihat dari bagaimana ia bersyukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Tuhannya sehingga ia tidak pernah lupa untuk selalu menjalankan perintah Tuhannya.


DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo, Soekidjo. (2012).  Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Mufid, Ahmad. (2015). Tips berpikir positive. Yogyakarta: Psikopedia
Yen, Tan Shot.(2015). Nasehat buat sehat. Jakarta: PT Gramedia
http://www.smallcrab.com/kesehatan/595-empat-aspek-kesehatan-manusia