Sabtu, 15 Oktober 2016
Minggu, 02 Oktober 2016
Psikologi Manajemen: Organisasi, SDM, dan Kepemimpinan
1.
Sumber Daya Manusia (SDM)
a)
Sonny
Sumarsono (2003) :
Sumber Daya Manusia atau human recources mengandung dua
pengertian. Pertama, adalah usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam
proses produksi. Dalam hal lain SDM mencerminkan kualitas usaha yang diberikan
oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa.
Pengertian kedua, SDM menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk memberikan
jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti mampu melakukan kegiatan
yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan
barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau masyarakat.
b)
Mary
Parker Follett :
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu seni untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk
melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain tidak
melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Definisi tersebut mengandung arti bahwa
para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang
lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlakukan, atau dengan kata
lain dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
c)
M.T.E.
Hariandja (2002) :
Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam suatu perusahaan disamping faktor yang lain seperti modal.
Oleh karena itu SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensi organisasi.
d)
Mathis
dan Jackson (2006) :
SDM adalah rancangan sistem-sistem formal dalam sebuah
organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien
guna mencapai tujuan organisasi.
e)
The
Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) dalam Mullins (2005) :
Sumber daya manusia dinyatakan sebagai strategi
perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan untuk mengelola manusia untuk kinerja
usaha yang optimal termasuk kebijakan pengembangan dan proses untuk mendukung
strategi.
f)
Hasibuan
(2003) :
Pengertian Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu
dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya
dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya
dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.
2.
Organisasi
a)
Rosenzweig
:
Organisasi dapat dipandang sebagai : (1) Sistem sosial,
yaitu orang-orang dalam kelompok; (2) Integrasi atau kesatuan dari
aktifitas-aktifitas orang-orang yang bekerjasama; dan (3) Orang-orang yang
berorientasi atau berpedoman pada tujuan bersama
b)
Matthias
Aroef :
Suatu organisasi terjadi apabila sekelompok orang bekerja
bersama-sama untuk mencapai tujuannya.
c)
Pfiffner
dan Sherwood :
Organisasi sebagai suatu pola dari cara-cara dalam mana
sejumlah orang yang saling berhubungan, bertemu muka, secara intim dan terikat
dalam suatu tugas yang bersifat kompleks, berhubungan satu dengan yang lainnya
secara sadar, menetapkan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan semula
secara sistematis.
d)
Bakke
:
Ia menitikberatkan pada pemikiran pentingnya organisasi
dalam konteks sosial, memberikan definisi organisasi soial sebagai sitem yang
kontinue dari penggunaan, pemindahan aktivitas-aktivitas manusia yang
dibebankan dan dikoordinasikan, sehingga membentuk suatu kumpulan tertentu yang
terdiri dari manusia, material, kapital, gagasan, dan sumber daya alam ke dalam
suatu keseluruhan pemecahan persoalan.
e)
Allen
:
Organisasi adalah suatu proses identifikasi dan
pembentuka serta pengelompokan kerja, mendefinisikan dan mendelegasikan
wewenang maupun tanggungjawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud
untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan
yang ditetapkan.
Teori Organisasi:
a)
Teori
organisasi Klasik
Teori Organisasi Klasik memusatkan perhatiannya pada
penciptaan suatu himpunan teknik-teknik yang rasional, yang diperlukan dalam
mengembangkan baik struktur maupun proses dan juga mengarahkan suatu bentuk
koordinasi yang mampu mengintegrasikan hubungan-hubungan antara bagian dari
suatu organisasi. Teori Klasik sangat meyakini bahwa jika teknik dan pendekatan
yang rasional dapat diwujudkan maka organisasi akan dapat berjalan lebih baik
dalam pencapaian tujuan.
Pusat perhatian uyama bagi para pemikir teori organisasi
klasik ini adalah organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis. Hal ini dapat
dipahami karena organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis itu, selain mudah
dipelajari juga mengharuskan adanya proses dan struktur yang rasional untuk
mencapai efisiensi. suatu ciri yang selalu terlekat pada organisasi yang
bergerak dalam bidang bisnis. Meskipun demikian, pada perkembangannya kemudian
lingkupnya meluas pada semua tipe organisasi, tetapi tetap dengan esensi yang
sama, yaitu menekankan segi rasionalitas dalam pelaksanaan kegiatan organisasi.
Beberapa perintis studi organisasi yang pandangan-pandangannya
sangat berpengaruh dalam perkembangan teori organisasi antara lain diberikan
oleh Max Weber, yang oleh banyak kalangan dinyatakan sebagai "Bapak Teori
Organisasi" atau "the father of organization teori", dengan
tradisi sosiologinya, kemudian oleh F.W Taylor dengan gerakan manajemen
ilmiahnya, serta oleh Fayol dan kawan-kawan dengan prinsip-prinsip
administrasinya
1)
Max
Weber dan Tipe Ideal Birokrasi
Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman,
merupakan salah satu perintis utama studi mengenai organisasi. Konsep Weber
yang paling monumental adalah analisisnya mengenai Birokrasi. Oleh karena
analisisnya mengenai tipe ideal birokrasi inilah kemudian menempatkan Weber
sebagai salah satu yang terpenting diantara banyak perintis Teori Organisasi.
Konsep Weber tentang birokrasi sangat berbeda dengan
pandangan umum yang melihat sisi negatip dari birokrasi, misalnya sebagai
sumber ketidak efisienan, berbelit-belit dan sarang penyalah gunaan kekuasaan.
Weber mengkonsepsikan birokrasi sebagai tipe ideal. Hal ini perlu diperhatikan
karena model yang dikembangkan oleh Weber itu tipe ideal, yang dalam
kenyatannyanya tidak akan dijumpai satu birokrasi pun yang memiliki kesamaan
secara sempurna dengan tipe ideal sebagaimana dikemukakan Weber. Tetapi, sejauh
mana suatu birokrasi mendekati karakteristik tipe ideal birokrasi, menjadi
tolak ukur sejauh mana tingkat efisiensinya dapat dicapai secara maksimum
sebagaimana dikonsepsikan Weber.
Tipe ideal birokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Weber
memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.
Peraturan
atau aturan yang ada di dalam birokrasi sangat jelas dan tegas sekali. Hal yang
demikian diperlukan dalam birokrasi terutama untuk menegakkan ketertiban-dan
kelangsungan dari birokrasi itu sendiri.
b.
Terdapat
ruang lingkup kompetensi yang jelas. Orang-orang dalam birokrasi memiliki
tugas-tugas dan pekerjaan yang dirumuskan secara jelas dan tegas, serta
memiliki kewenangan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas atau
pekerjaan yang diberikan itu. Jadi prinsip pembagian kerja (division of labour)
merupakan aspek integral dari birokrasi.
c.
Sumber
dari otoritas atau kewenangan adalah ketrampilan teknis, kompetensi dan
keahlian (expertise). Ini merupakanukuran yang obyektif dan berlaku bagi
siapapun yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang ada dapat dipromosikan
pada suatu jabatan atau posisi tertentu dalam birokrasi.
d.
Para
pelaksana atau staf administrasi secara tegas dipisahkan dari para pemilik
modal atau alat produksi. Pemilikan alat produksi dan modal dipisahkan dari kepemimpinan
ini dilakukan sebagai upaya untuk dapat membuat keputusan yang rasional dan
obyektif.
e.
Prinsip
hirarkhi menunjukkan bahwa tiap-tiap bagian yang lebih rendah posisinya, selalu
berada di bawah perintah dan selalu dibawah pengawasan dari posisi yang lebih
tinggi. Garis komunikasi lebih bersifat vertikal dari pada bersifat horisontal.
f.
Tindakan-tindakan,
keputusan-keputusan dan aturan-aturan semuanya diadministrasikan dan diarsipkan
secara tertulis. Proses pelaksanaan fungsi organisasi merupakan sesuatu yang
dapat diketahui oleh siapapun dan bersifat publik.
2) Taylor dan Manajemen Ilmiah
Di Amerika Serikat, perkembangan teori organisasi
dirintis oleh Frederick W Taylor (1856-1915), seorang praktisi yang sama sekali
bukan seorang akademisi yang mengembangkan pemikiran tentang teori organisasi
maupun memberikan kontribusi pada dunia akademik. Meskipun demikian,
berdasarkan pengalamannya sebagai konsultan dan eksekutif dari suatu pabrik,
Taylor memiliki pandangan pragmatis dan menaruh perhatian yang besar pada
masalah peningkatan produktivitas pekerja.
Inti dari pemikiran Taylor adalah gagasan mengenai
terdapatnya satu cara terbaik untuk melaksanakan pekerjaan. Hal itu berarti ada
kebutuhan besar untuk mengembangkan satu cara terbaik dalam menjalankan tugas,
dalam membuat suatu standar atau ukuran yang dapat dilaksanakan secara praktis,
dalam menemukan orang-orang yang tepat untuk melakukan tugas itu, serta dalam
menetapkan alat dan perlengkapan terbaik yang diperlukan orang-orang tersebut.
Jika ini dilaksanakan, baik orang-orang yang bekerja dalam organisasi maupun
organisasi itu keduanya akan mendapatkan banyak keuntungan-keuntungan.
Ciri-Ciri Organisasi:
§
Lembaga
social yang terdiri atas kumpulan orang dengan berbagai pola interaksi yang
ditetapkan.
§
Dikembangkan
untuk mencapai tujuan
§
Secara
sadar dikoordinasi dan dengan sengaja disusun
§
Instrumen
social yang mempunyai batasan yang secara relatif dapat diidentifikasi.
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan
berasal dari kata bahasa inggris, yaitu leadership. Menurut
Tikno Lensufie, Kepemimpinan memiliki arti luas, meliputi ilmu tentang kepemimpinan,
teknik kepemimpinan, seni memimpin, ciri kepemimpinan,
serta sejarah kepemimpinan. Kepemimpinan bukan berarti memimpin
orang untuk sesaat (insidental) seperti memimpin upacara bendera,
memimpin paduan suara dan sebagainya. Tapi kepemimpinan lebih kepada seseorang
yang memimpin suatu organisasi atau institusi.
Beberapa pengertian
kepemimpinan :
1.
Pemimpin adalah
seorang yang dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan
usaha bersama guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan.
2.
Ketua adalah seorang yang dituaikan dalam
kelompok untuk mewakili dan bertanggungjawab atas kelompoknya dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
3.
Kepala adalah seorang yang mengepalai suatu
kelompok atau unit untuk memimpin kelompok/unit mencapai tujuan.
4.
Kepemimpinan adalah proses
menggerakkan dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan
beberapa pengertian tersebut, maka kepemimpinan berkaitan dengan :
1.
Keterlibatan orang lain atau sekelompok orang
dalam kegaitan mencapai tujuan.
2.
Terdapat faktor tertentu yang ada pada
pemimpin sehingga orang lain bersedia digerakkan atau dipengaruhi untuk
mencapai tujuan.
3.
Adanya usaha bersama serta pengerahan
berbagai sumber daya, baik tenaga, dana, waktu dan lain sebagainya.
Beberapa teori kepemimpinan:
a.
Teori
Orang Besar dan Sifat
Studi kepemimpinan pada awal abad ke-20
berfokus pada apa yang telah disebut sebagai great man theory dan trait
theory. Teori kepemimpinan orang besar mengusulkan bahwa orang-orang
tertentu dilahirkan untuk memimpin dan ketika krisis muncul orang-orang
tersebut mengambil langkah untuk memperoleh tempat alami mereka.
Teori ini juga terkait dengan teori sifat atau trait
theory. Teori sifat mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki
karakteristik kepemimpinan saja yang akan menjadi pemimpin yang sukses. Proses
pencariannya adalah untuk menemukan kombinasi yang tepat antara karakteristik
yang akan mengakibatkan efektifitas dalam memimpin organisasi.
Melalui dua survei meta analisis dari 124 studi
sebelumnya pada tahun 1948 dan 163 orang pada tahun 1974, RM Stogdill
mengidentifikasi daftar 10 sifat terbaik dan keterampilan para pemimpin yang
efektif sebagai berikut:
1. Mengambil tanggung jawab dan penyelesaian
tugas.
2. Kekuatan dan ketekunan dalam mengejar tujuan.
3. Orisinalitas dalam pemecahan masalah.
4. Mendorong untuk melakukan inisiatif dalam
situasi social.
5. Kepercayaan diri dan kekuatan identitas
pribadi.
6. Kesediaan untuk menerima konsekuensi dari
keputusan dan tindakan.
7. Kesiapan untuk menyerap tekanan
interpersonal.
8. Kesediaan untuk mentolerir frustrasi dan
penundaan.
9. Kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang
lain.
10. Memiliki kapasitas untuk masuk dalam
struktur sistem interaksi sosial dengan tujuan yang jelas.
b.
Gaya
Kepemimpinan Lewin
Kurt Lewin bekerja dengan rekan-rekannya
Lippett dan White pada tahun 1939, dengan membuat sebuah eksperimen terhadap
pola perilaku agresif dalam lingkungan sosial. Dalam pekerjaan itu, Lewin et
al. Mengajukan tiga jenis kepemimpinan yang ditampilkan dalam organisasi.
meliputi:
1. Kepemimpinan otokratis dimana pemimpin
perusahaan membuat semua keputusan tanpa konsultasi.
2. Kepemimpinan demokratis dimana
pemimpin-pengawas termasuk anggota organisasi dalam proses pengambilan
keputusan.
3. Kepemimpinan laissez faire adalah
kepemimpinan dimana pemimpin memainkan peran minim dalam proses pengambilan
keputusan.
c.
Otoritas
Karismatik
Max Weber, seorang sosiolog Jerman, adalah
orang pertama yang mengusulkan dan menjelaskan tentang otoritas karismatik
sebagai cikal bakal teori kepemimpinan karismatik dalam karyanya The
Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.
Weber menggambarkan kepemimpinan karismatik
sebagai “karakteristik kepribadian khusus yang memberikan seseorang … kekuatan
yang luar biasa yang mengakibatkan orang yang diperlakukan sebagai seorang
pemimpin.”
Teori kepemimpinan karismatik menggambarkan
karakteristik personal dari jenis pemimpin sebagai “yang dominan, memiliki
keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orang lain, memiliki kepercayaan diri,
dan memiliki rasa yang kuat dari nilai-nilai moralnya sendiri” (Northouse,
2004).
d.
Teori
Kepemimpinan Kontigensi (Ketidakpastian)
‘Taylorists’ (penganut teori klasik) percaya
ada satu gaya kepemimpinan terbaik dan gaya yang cocok untuk semua situasi (one
fit to all size). Fred Edward Fiedler dalam berbagai karya datang dengan
keyakinan bahwa gaya kepemimpinan terbaik adalah salah satu yang paling cocok
dengan situasi tertentu. Oleh karena itu Fiedler mengusulkan teori kepemimpinan
kontingensi dan skala rekan kerja untuk menentukan apakah seorang manajer
atasan tertentu adalah cocok untuk tugas kepemimpinannya.
4.
Keterkaitan antara SDM, Organisasi, dan
Kepemimpinan beserta contohnya
Ø
Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa
sruktur organisasi apabila disusun dengan baik pembagian kerjanya serta saling
mendukung, maka tujuan organisasi akan tercapai.
Ø
Demikian juga menurut Franklin G.
More bahwa dalam mendelegasikan pekerjaan harus tepat dan jelas karena akan
berpengaruh pada tugas yang dikerjakan.
Ø
Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa
motivasi merupakan dukungan dari atasan kepada bawahan dalam melaksanakan
tugasnya, sebaliknya tanpa ada dukungan dari bawahan maka pimpinan tidak ada
artinya.Pimpinan harus bertanggung jawab atas efektifitas individu, kelompok
dan organisasi itu sendiri.
Ø
Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa
kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan adalah mengukur kemampuan SDM yang
sangat berpengaruh terhadap efektifitas pelayanan. Dengan adanya kemampuan,
ketrampilan dan pengetahuan akan mendukung terwujudnya tujuan organisasi
Dilihat dari beberapa teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa
organisasi, SDM, dan kepemimpinan sangat berpengaruh pada organisasi itu
sendiri. Ketika struktur organisasi disusun dengan baik, maka akan menghasilkan
pembagian kerja yang baik pula dan tujuan organisasi tercapai. Selain itu agar
tercapainya tujuan organisasi pemimpin sangat berpengaruh besar pada kinerja
anggotanya, ketika pemimpinnya bisa memberi motivasi yang baik, pengaruh yang
baik pada anggota maka kerja anggota pun akan berjalan dengan baik. dan yang
terakhir SDM, kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan sumber daya manusia pada
sebuah organisasi sangat berpengaruh terhadap efektifitas jalannya organisasi
tersebut yang juga sebagai salah satu penentu tercapainya tujuan dari
organisasi.
Contohnya adalah pada perusahaan Toto Motors di Makassar. Dikutip
dari laman sulsel.fajar.co.id news seorang Branch
Manager (BM), Yose Talesman mengatakan bahwa dalam mengembangkan perusahaan, pelayanan terbaik
harus diberikan kepada konsumen.
Pelayanan begitu sensitif, untuk itu setiap penyedia layanan
mesti sangat hati-hati dalam melayani dan mengutamakan kepuasan konsumen. Menurutnya,
dalam merintis sebuah perusahaan, apalagi perusahaan yang masih terbilang baru,
setiap semua sumber daya manusia (SDM) yang ada dituntut harus bekerja ekstra
untuk memberikan pelayanan.
Bentuk pelayanan tersebut harus dilakukan secara konsisten
tidak boleh menurun dari kualitas pelayanan sebelumnnya. Sebab konsumen dapat
beralih mencari perusahaan yang lain. Untuk itu, kita harus berprinsip bahwa
pelanggan seperti atasan kita yang perlu dilayani dengan baik. Keluhan mereka
harus didengarkan dan kita berusaha memperbaiki agar membuat mereka tak kecewa.
Menurut Yose dalam meningkatkan produktifitas karyawan, sebagai pimpinan,
Ia berusaha tidak memperlakukan karyawan sebagai bawahan, tetapi memperlakukan
karyawan sebagai mitra kerja yang hanya berbeda wilayah dan porsi
kerja.Pemberian apresiasi juga merupakan bentuk jalinan mitra kerja yang begitu
efektif dalam memotivasi karyawan untuk terus loyal dalam bekerja. Bahkan Yose berusaha
memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi. Pemberian reward seperti
insentif dan bonus merupakan salah satu bagian untuk memotivasi mereka dalam
bekerja.
Dilihat dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pada perusahaan
tersebut struktur organisasi, kepemimpinan, dan SDM berjalan dengan baik.
Sumber:
·
Rahman, Hasanuddin. 2004.
Manajemen Fit and Proper Test. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
·
Budihardjo, Andreas. 2011.
Organisasi: Menuju Pencapaian Kinerja Optimum. Jakarta: Prasetya Mulya
Publishing
Langganan:
Komentar (Atom)