Sabtu, 15 Oktober 2016

PSIKOLOGI MANAJEMEN: DEFINISI DAN DIMENSI KOMUNIKASI

1.      Definisi Komunikasi

Berikut beberapa definisi komunikasi menurut para pakar :

a) Menurut Laswell komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.

b)  Menurut Carl I. Hovland komunikasi adalah proses dimana seorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non-verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.

c)    Menurut Theodorson dan Thedorson komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.

d)  Menurut William Albig komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.

e) Menurut Charles H. Cooley komunikasi adalah suatu mekanisme hubungan antarmanusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang menyimpan dalam waktu

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses interaksi dimana seorang individu menyampaikan informasi atau ide-ide kepada orang lain dengan menggunakan simbol (verbal maupun non-verbal) yang bisa berdampak pada orang tersebut.

 

2.      Dimensi-dimensi Komunikasi

·        Dimensi Isi

Dimensi isi merupakan dimensi yang menunjukkan isi dari komunikasi yang dilakukan baik secara verbal ataupun non-verbal. Dalam proses komunikasi antar dua orang atau lebih pasti memiliki tujuan yang merupakan isi dari komunikasi yang kemudian akan di interpretasikan oleh lawan komunikasi tersebut.

·         Dimensi Kebisingan

Dimensi kebisingan merupakan suara atau bunyi yang tidak di kehendaki ketika terjadinya proses komunikasi sehingga menjadi penghambat jalannya komunikasi yang baik.

·         Dimensi Jaringan

Dimensi jaringan adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jarngan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistim komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke orang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.

·         Dimensi Arah

Dimensi arah dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah terjadi ketika satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik, sedangkan komunikasi dua arah terjadi ketika satu orang memberikan informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.

 

3.      Pemahaman Umum Peran Psikologi Manajemen dalam Organisasi

Seperti yang telah kita ketahui bahwa organisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), dan kepemimpinan ketiga-tiganya saling terkait dan saling mempengaruhi. Maka dari itu untuk me-manage ketiga hal tersebut agar berjalan dengan baik psikologi manajemen berperan penting di dalamnya. Bagaimana menjalankan organisasi sesuai tujuan namun tetap memperhatikan SDM, bagaimana seharusnya kepemimpinan itu agar SDM bekerja dengan baik sehingga goals dari organisasi dapat tercapai, dan sebagainya. Itu semua merupakan peranan penting dari psikologi manajemen dalam organisasi.

 

Sumber:

·   Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: MedPress

·       Wiryanto. (2004). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta : PT Grassindo.

·  Mulyana, Deddy. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

 

 

 

Minggu, 02 Oktober 2016

Psikologi Manajemen: Organisasi, SDM, dan Kepemimpinan

 
1.      Sumber Daya Manusia (SDM)

a)      Sonny Sumarsono (2003) :
Sumber Daya Manusia atau human recources mengandung dua pengertian. Pertama, adalah usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses produksi. Dalam hal lain SDM mencerminkan kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa. Pengertian kedua, SDM menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti mampu melakukan kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau masyarakat.
b)      Mary Parker Follett :
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu seni untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Definisi tersebut mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlakukan, atau dengan kata lain dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
c)      M.T.E. Hariandja (2002) :
Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu perusahaan disamping faktor yang lain seperti modal. Oleh karena itu SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi.
d)      Mathis dan Jackson (2006) :
SDM adalah rancangan sistem-sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi.
e)      The Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) dalam Mullins (2005) :
Sumber daya manusia dinyatakan sebagai strategi perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan untuk mengelola manusia untuk kinerja usaha yang optimal termasuk kebijakan pengembangan dan proses untuk mendukung strategi.
f)       Hasibuan (2003) :
Pengertian Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.

2.      Organisasi

a)      Rosenzweig :
Organisasi dapat dipandang sebagai : (1) Sistem sosial, yaitu orang-orang dalam kelompok; (2) Integrasi atau kesatuan dari aktifitas-aktifitas orang-orang yang bekerjasama; dan (3) Orang-orang yang berorientasi atau berpedoman pada tujuan bersama
b)      Matthias Aroef :
Suatu organisasi terjadi apabila sekelompok orang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuannya.
c)      Pfiffner dan Sherwood :
Organisasi sebagai suatu pola dari cara-cara dalam mana sejumlah orang yang saling berhubungan, bertemu muka, secara intim dan terikat dalam suatu tugas yang bersifat kompleks, berhubungan satu dengan yang lainnya secara sadar, menetapkan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan semula secara sistematis.
d)      Bakke :
Ia menitikberatkan pada pemikiran pentingnya organisasi dalam konteks sosial, memberikan definisi organisasi soial sebagai sitem yang kontinue dari penggunaan, pemindahan aktivitas-aktivitas manusia yang dibebankan dan dikoordinasikan, sehingga membentuk suatu kumpulan tertentu yang terdiri dari manusia, material, kapital, gagasan, dan sumber daya alam ke dalam suatu keseluruhan pemecahan persoalan.
e)      Allen :
Organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentuka serta pengelompokan kerja, mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang maupun tanggungjawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.


Teori Organisasi:

a)      Teori organisasi Klasik
Teori Organisasi Klasik memusatkan perhatiannya pada penciptaan suatu himpunan teknik-teknik yang rasional, yang diperlukan dalam mengembangkan baik struktur maupun proses dan juga mengarahkan suatu bentuk koordinasi yang mampu mengintegrasikan hubungan-hubungan antara bagian dari suatu organisasi. Teori Klasik sangat meyakini bahwa jika teknik dan pendekatan yang rasional dapat diwujudkan maka organisasi akan dapat berjalan lebih baik dalam pencapaian tujuan.
Pusat perhatian uyama bagi para pemikir teori organisasi klasik ini adalah organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis. Hal ini dapat dipahami karena organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis itu, selain mudah dipelajari juga mengharuskan adanya proses dan struktur yang rasional untuk mencapai efisiensi. suatu ciri yang selalu terlekat pada organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis. Meskipun demikian, pada perkembangannya kemudian lingkupnya meluas pada semua tipe organisasi, tetapi tetap dengan esensi yang sama, yaitu menekankan segi rasionalitas dalam pelaksanaan kegiatan organisasi.

Beberapa perintis studi organisasi yang pandangan-pandangannya sangat berpengaruh dalam perkembangan teori organisasi antara lain diberikan oleh Max Weber, yang oleh banyak kalangan dinyatakan sebagai "Bapak Teori Organisasi" atau "the father of organization teori", dengan tradisi sosiologinya, kemudian oleh F.W Taylor dengan gerakan manajemen ilmiahnya, serta oleh Fayol dan kawan-kawan dengan prinsip-prinsip administrasinya

1)      Max Weber dan Tipe Ideal Birokrasi
Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman, merupakan salah satu perintis utama studi mengenai organisasi. Konsep Weber yang paling monumental adalah analisisnya mengenai Birokrasi. Oleh karena analisisnya mengenai tipe ideal birokrasi inilah kemudian menempatkan Weber sebagai salah satu yang terpenting diantara banyak perintis Teori Organisasi.

Konsep Weber tentang birokrasi sangat berbeda dengan pandangan umum yang melihat sisi negatip dari birokrasi, misalnya sebagai sumber ketidak efisienan, berbelit-belit dan sarang penyalah gunaan kekuasaan. Weber mengkonsepsikan birokrasi sebagai tipe ideal. Hal ini perlu diperhatikan karena model yang dikembangkan oleh Weber itu tipe ideal, yang dalam kenyatannyanya tidak akan dijumpai satu birokrasi pun yang memiliki kesamaan secara sempurna dengan tipe ideal sebagaimana dikemukakan Weber. Tetapi, sejauh mana suatu birokrasi mendekati karakteristik tipe ideal birokrasi, menjadi tolak ukur sejauh mana tingkat efisiensinya dapat dicapai secara maksimum sebagaimana dikonsepsikan Weber.

Tipe ideal birokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Weber memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Peraturan atau aturan yang ada di dalam birokrasi sangat jelas dan tegas sekali. Hal yang demikian diperlukan dalam birokrasi terutama untuk menegakkan ketertiban-dan kelangsungan dari birokrasi itu sendiri.
b.      Terdapat ruang lingkup kompetensi yang jelas. Orang-orang dalam birokrasi memiliki tugas-tugas dan pekerjaan yang dirumuskan secara jelas dan tegas, serta memiliki kewenangan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan yang diberikan itu. Jadi prinsip pembagian kerja (division of labour) merupakan aspek integral dari birokrasi.
c.       Sumber dari otoritas atau kewenangan adalah ketrampilan teknis, kompetensi dan keahlian (expertise). Ini merupakanukuran yang obyektif dan berlaku bagi siapapun yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang ada dapat dipromosikan pada suatu jabatan atau posisi tertentu dalam birokrasi.
d.      Para pelaksana atau staf administrasi secara tegas dipisahkan dari para pemilik modal atau alat produksi. Pemilikan alat produksi dan modal dipisahkan dari kepemimpinan ini dilakukan sebagai upaya untuk dapat membuat keputusan yang rasional dan obyektif.
e.       Prinsip hirarkhi menunjukkan bahwa tiap-tiap bagian yang lebih rendah posisinya, selalu berada di bawah perintah dan selalu dibawah pengawasan dari posisi yang lebih tinggi. Garis komunikasi lebih bersifat vertikal dari pada bersifat horisontal.
f.       Tindakan-tindakan, keputusan-keputusan dan aturan-aturan semuanya diadministrasikan dan diarsipkan secara tertulis. Proses pelaksanaan fungsi organisasi merupakan sesuatu yang dapat diketahui oleh siapapun dan bersifat publik. 

2)      Taylor dan Manajemen Ilmiah
Di Amerika Serikat, perkembangan teori organisasi dirintis oleh Frederick W Taylor (1856-1915), seorang praktisi yang sama sekali bukan seorang akademisi yang mengembangkan pemikiran tentang teori organisasi maupun memberikan kontribusi pada dunia akademik. Meskipun demikian, berdasarkan pengalamannya sebagai konsultan dan eksekutif dari suatu pabrik, Taylor memiliki pandangan pragmatis dan menaruh perhatian yang besar pada masalah peningkatan produktivitas pekerja.
Inti dari pemikiran Taylor adalah gagasan mengenai terdapatnya satu cara terbaik untuk melaksanakan pekerjaan. Hal itu berarti ada kebutuhan besar untuk mengembangkan satu cara terbaik dalam menjalankan tugas, dalam membuat suatu standar atau ukuran yang dapat dilaksanakan secara praktis, dalam menemukan orang-orang yang tepat untuk melakukan tugas itu, serta dalam menetapkan alat dan perlengkapan terbaik yang diperlukan orang-orang tersebut. Jika ini dilaksanakan, baik orang-orang yang bekerja dalam organisasi maupun organisasi itu keduanya akan mendapatkan banyak keuntungan-keuntungan.

Ciri-Ciri Organisasi:
§        Lembaga social yang terdiri atas kumpulan orang dengan berbagai pola interaksi yang ditetapkan.
§        Dikembangkan untuk mencapai tujuan
§        Secara sadar dikoordinasi dan dengan sengaja disusun
§        Instrumen social yang mempunyai batasan yang secara relatif dapat diidentifikasi.

3.      Kepemimpinan

Kepemimpinan berasal dari kata bahasa inggris, yaitu leadership. Menurut Tikno Lensufie, Kepemimpinan memiliki arti luas, meliputi ilmu tentang kepemimpinan, teknik kepemimpinan, seni memimpin, ciri kepemimpinan, serta sejarah kepemimpinan. Kepemimpinan bukan berarti memimpin orang untuk sesaat (insidental) seperti memimpin upacara bendera, memimpin paduan suara dan sebagainya. Tapi kepemimpinan lebih kepada seseorang yang memimpin suatu organisasi atau institusi.
Beberapa pengertian kepemimpinan :
1.      Pemimpin adalah seorang yang dapat  mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan usaha bersama guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan.
2.      Ketua adalah seorang yang dituaikan dalam kelompok untuk mewakili dan bertanggungjawab atas kelompoknya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3.      Kepala adalah seorang yang mengepalai suatu kelompok atau unit untuk memimpin kelompok/unit mencapai tujuan.
4.      Kepemimpinan adalah proses menggerakkan dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka kepemimpinan berkaitan dengan :
1.      Keterlibatan orang lain atau sekelompok orang dalam kegaitan mencapai tujuan.
2.      Terdapat faktor tertentu yang ada pada pemimpin sehingga orang lain bersedia digerakkan atau dipengaruhi untuk mencapai tujuan.
3.      Adanya usaha bersama serta pengerahan berbagai sumber daya, baik tenaga, dana, waktu dan lain sebagainya.

Beberapa teori kepemimpinan: 

a.       Teori Orang Besar dan Sifat
Studi kepemimpinan pada awal abad ke-20 berfokus pada apa yang telah disebut sebagai great man theory dan trait theory. Teori kepemimpinan orang besar mengusulkan bahwa orang-orang tertentu dilahirkan untuk memimpin dan ketika krisis muncul orang-orang tersebut mengambil langkah untuk memperoleh tempat alami mereka.
Teori ini juga terkait dengan teori sifat atau trait theory. Teori sifat mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki karakteristik kepemimpinan saja yang akan menjadi pemimpin yang sukses. Proses pencariannya adalah untuk menemukan kombinasi yang tepat antara karakteristik yang akan mengakibatkan efektifitas dalam memimpin organisasi.
Melalui dua survei meta analisis dari 124 studi sebelumnya pada tahun 1948 dan 163 orang pada tahun 1974, RM Stogdill mengidentifikasi daftar 10 sifat terbaik dan keterampilan para pemimpin yang efektif sebagai berikut:

1. Mengambil tanggung jawab dan penyelesaian tugas.
2. Kekuatan dan ketekunan dalam mengejar tujuan.
3. Orisinalitas dalam pemecahan masalah.
4. Mendorong untuk melakukan inisiatif dalam situasi social.
5. Kepercayaan diri dan kekuatan identitas pribadi.
6. Kesediaan untuk menerima konsekuensi dari keputusan dan tindakan.
7. Kesiapan untuk menyerap tekanan interpersonal.
8. Kesediaan untuk mentolerir frustrasi dan penundaan.
9. Kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
10. Memiliki kapasitas untuk masuk dalam struktur sistem interaksi sosial dengan tujuan yang jelas.

b.      Gaya Kepemimpinan Lewin
Kurt Lewin bekerja dengan rekan-rekannya Lippett dan White pada tahun 1939, dengan membuat sebuah eksperimen terhadap pola perilaku agresif dalam lingkungan sosial. Dalam pekerjaan itu, Lewin et al. Mengajukan tiga jenis kepemimpinan yang ditampilkan dalam organisasi. meliputi:
1. Kepemimpinan otokratis dimana pemimpin perusahaan membuat semua keputusan tanpa konsultasi.
2. Kepemimpinan demokratis dimana pemimpin-pengawas termasuk anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan.
3. Kepemimpinan laissez faire adalah kepemimpinan dimana pemimpin memainkan peran minim dalam proses pengambilan keputusan.

c.       Otoritas Karismatik
Max Weber, seorang sosiolog Jerman, adalah orang pertama yang mengusulkan dan menjelaskan tentang otoritas karismatik sebagai cikal bakal teori kepemimpinan karismatik dalam karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.
Weber menggambarkan kepemimpinan karismatik sebagai “karakteristik kepribadian khusus yang memberikan seseorang … kekuatan yang luar biasa yang mengakibatkan orang yang diperlakukan sebagai seorang pemimpin.”
Teori kepemimpinan karismatik menggambarkan karakteristik personal dari jenis pemimpin sebagai “yang dominan, memiliki keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orang lain, memiliki kepercayaan diri, dan memiliki rasa yang kuat dari nilai-nilai moralnya sendiri” (Northouse, 2004).

d.      Teori Kepemimpinan Kontigensi (Ketidakpastian)
‘Taylorists’ (penganut teori klasik) percaya ada satu gaya kepemimpinan terbaik dan gaya yang cocok untuk semua situasi (one fit to all size). Fred Edward Fiedler dalam berbagai karya datang dengan keyakinan bahwa gaya kepemimpinan terbaik adalah salah satu yang paling cocok dengan situasi tertentu. Oleh karena itu Fiedler mengusulkan teori kepemimpinan kontingensi dan skala rekan kerja untuk menentukan apakah seorang manajer atasan tertentu adalah cocok untuk tugas kepemimpinannya.
4.      Keterkaitan antara SDM, Organisasi, dan Kepemimpinan beserta contohnya

Ø  Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa sruktur organisasi apabila disusun dengan baik pembagian kerjanya serta saling mendukung, maka tujuan organisasi akan tercapai.
Ø  Demikian juga menurut Franklin G. More bahwa dalam mendelegasikan pekerjaan harus tepat dan jelas karena akan berpengaruh pada tugas yang dikerjakan.
Ø  Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa motivasi merupakan dukungan dari atasan kepada bawahan dalam melaksanakan tugasnya, sebaliknya tanpa ada dukungan dari bawahan maka pimpinan tidak ada artinya.Pimpinan harus bertanggung jawab atas efektifitas individu, kelompok dan organisasi itu sendiri.
Ø  Menurut pendapat Gibson, et.al bahwa kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan adalah mengukur kemampuan SDM yang sangat berpengaruh terhadap efektifitas pelayanan. Dengan adanya kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan akan mendukung terwujudnya tujuan organisasi

Dilihat dari beberapa teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa organisasi, SDM, dan kepemimpinan sangat berpengaruh pada organisasi itu sendiri. Ketika struktur organisasi disusun dengan baik, maka akan menghasilkan pembagian kerja yang baik pula dan tujuan organisasi tercapai. Selain itu agar tercapainya tujuan organisasi pemimpin sangat berpengaruh besar pada kinerja anggotanya, ketika pemimpinnya bisa memberi motivasi yang baik, pengaruh yang baik pada anggota maka kerja anggota pun akan berjalan dengan baik. dan yang terakhir SDM, kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan sumber daya manusia pada sebuah organisasi sangat berpengaruh terhadap efektifitas jalannya organisasi tersebut yang juga sebagai salah satu penentu tercapainya tujuan dari organisasi.

Contohnya adalah  pada perusahaan Toto Motors di Makassar. Dikutip dari laman sulsel.fajar.co.id news seorang Branch Manager (BM), Yose Talesman mengatakan bahwa dalam mengembangkan perusahaan, pelayanan terbaik harus diberikan kepada konsumen.
Pelayanan begitu sensitif, untuk itu setiap penyedia layanan mesti sangat hati-hati dalam melayani dan mengutamakan kepuasan konsumen. Menurutnya, dalam merintis sebuah perusahaan, apalagi perusahaan yang masih terbilang baru, setiap semua sumber daya manusia (SDM) yang ada dituntut harus bekerja ekstra untuk memberikan pelayanan.

Bentuk pelayanan tersebut harus dilakukan secara konsisten tidak boleh menurun dari kualitas pelayanan sebelumnnya. Sebab konsumen dapat beralih mencari perusahaan yang lain. Untuk itu, kita harus berprinsip bahwa pelanggan seperti atasan kita yang perlu dilayani dengan baik. Keluhan mereka harus didengarkan dan kita berusaha memperbaiki agar membuat mereka tak kecewa.

Menurut Yose dalam meningkatkan produktifitas karyawan, sebagai pimpinan, Ia berusaha tidak memperlakukan karyawan sebagai bawahan, tetapi memperlakukan karyawan sebagai mitra kerja yang hanya berbeda wilayah dan porsi kerja.Pemberian apresiasi juga merupakan bentuk jalinan mitra kerja yang begitu efektif dalam memotivasi karyawan untuk terus loyal dalam bekerja. Bahkan Yose berusaha memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi. Pemberian reward seperti insentif dan bonus merupakan salah satu bagian untuk memotivasi mereka dalam bekerja.

Dilihat dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pada perusahaan tersebut struktur organisasi, kepemimpinan, dan SDM berjalan dengan baik.

Sumber:
·         http://elisa.ugm.ac.id
·         Rahman, Hasanuddin. 2004. Manajemen Fit and Proper Test. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
·         Budihardjo, Andreas. 2011. Organisasi: Menuju Pencapaian Kinerja Optimum. Jakarta: Prasetya Mulya Publishing