Minggu, 05 Oktober 2014

Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.” 
Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
mutiara
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

sumber: http://dongeng.org
DALAM DIAM

Dalam diam..
Bunga itu mekar
Disinari sang mentari yang begitu kekar
Membuat keindahannya jelas terpancar

Dalam diam..
Entah apa yang harus ku lakukan
Menunggu ataukah harus ku katakan?
Letih rasanya menerima semua kenyataan

Dalam diam..
Bunga dan mentari tak bisa saling pandang
Hanya sinar yang datang
Membiarkan rasa itu terus berkembang

Tuhan inikah yang Kau inginkan?
Membuat kami hanya bisa saling mendoakan
Berharap suatu saat akan Kau kabulkan
Hingga akhirnya kami dipertemukan

Meski dalam diam.......

by: Rusma Desinta :)