Kamis, 28 April 2016

Tugas Kelompok: DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER (DID)




 www.newhealthadvisor.com

1.      Definisi DID
Berikut definisi DID dari dalam Ringrose, 2012 :
Dissociative Identity Disorder (or Multiple Personality Disorder) os characterized by presence of two or more distinct identities or personality states that recurrently take control of the individual’s behaviour, accompanied by an inability to recall important pesonal information that is too extensive to be explained by ordinary forgetfulness. It is disorder charahterized by identity fragmentation rather than proliferation or separate personalities (American Psychiatric Association, 2000, p.519)
DID merupakan suatu kelainan mental dimana orang tersebut memiliki dua atau lebih kepribadian (alter) yang saling tidak mengetahui satu sama lainnya. Mereka sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, tetapi penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
Kepribadian tersebut dapat muncul dari cerita, self-image, dan nama yang berbeda meskipun hanya sebagian yang berbeda dan setiap kepribadian tidak terikat satu sama lain. Alter identities terkadang memiliki perilaku yang sangat mencolok satu sama lainnya seperti jenis kelamin, usia, gaya penulisan, orientasi seksual, persepsi, berbicara serta pengetahuan umum. Misalnya, suatu alter mungkin lebih ceria, lembut, santai, serta tidak menunjukan pribadi yang serius, sedangkan alter yang lainnya merupakan pribadi yang kaku, kasar, dan sangat serius.
Meskipun penyebab dari DID ini belum jelas, namun para psikolog sependapat jika yang menyebabkan terjadinya DID secara umum adalah trauma di masa kecil. Gangguan ini lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. DID umumnya disertai dengan sakit kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halusinasi, upaya bunuh diri, disfungsi seksual, perilaku melukai diri sendiri, dan juga simptom-simptom disosiatif lain seperti amnesia dan depersonalisasi (Scrappo dkk., 1998)
2.      Faktor penyebab DID
·      Trauma tragis dalam hidupnya terutama di masa kanak-kanak (umumnya di usia 4 - 6 tahun) sehingga membuat pribadi yang sangat haus akan kasih sayang dan perhatian.
·      Rasa kesepian yang sangat mendalam akan mendorong seseorang membuat pribadi yang akan menemaninya setiap saat.
·      Lingkungan tempat ia dibesarkan membingungkan dan membuatnya stress yang cukup ekstrim dan tekanan batin berkepanjangan.
·      Depresi terus menerus tanpa sebab hingga akhirnya menciptakan karakter lain untuk bisa lari dari diri sendiri menjadi 'orang lain' yang lebih kuat dan tegar atau malah mendorongnya untuk bunuh diri.
·      Keadaan keluarga . Misal , sifat ayah dan ibu yang 180 derajat bertolak belakang antara keduanya dan sifat-sifat itu menurun pada si anak.
·      Hasil imajinasi yang semakin menjadi-jadi dan akhirnya out of control dari kepribadian utamanya sendiri.
3.      Gejala-gejala DID
·      Mengalami distorsi waktu, ingatan yang hilang. Orang dengan gangguan DID bisa tiba-tiba menemukan benda-benda yang tidak diketahui dan kemudian tiba-tiba berada di suatu tempat tanpa ingat peristiwa apa pun yang membuat mereka berada di tempat tersebut.
·      Menunjukkan sejumlah masalah perilaku dan emosional yang tidak menentu, kadang sangat baik atau kadang pula tidak baik.
·      Menunjukkan gejala yang hampir sama dengan penderita PTSD yakni hypervigilance, flashbacks pada trauma yang mereka hadapi, mimpi buruk, dan respon berlebih atas keterkejutan.
·      Emosi tidak stabil.
·      Mendengar suara-suara di dalam kepala (delusi)
·      Adanya beberapa jenis kepribadian dengan kualitas yang berbeda, yakni :
o    The host : kepribadian inti yang merupakan kepribadian normal dari individu tersebut dan berlawanan dengan kepribadian alter. Terdapat 3 jenis alter yakni :
§  Child alter :  alter dengan usia dan sifat kekanak-kanakan.
§  Prescutor personality : alter yang menimbulkan rasa sakit pada kepribadian lain dengan terlibat dalam perilaku merusak seperti memotong diri, membakar, hingga bunuh diri.
§  Protector atau helper personality : alter yang berfungsi memberikan nasihat kepada kepribadian lain atau untuk melakukan fungsi kepribadian inti (the host) yang tidak dapat dilakukan, seperti terlibat dalam hubungan seksual atau bersembunyi dari orang tua yang kejam.
·      Terjadi peristiwa switching dimana terjadi pergantian kepribadian baik dari the host menjadi alter atau sebaliknya. Hal ini terjadi bila penderita mengingat kembali trauma menyakitkan yang dialaminya di masa lalu atau bisa juga terjadi bila alter ingin berkomunikasi dengan terapis (Ringrose, 2012).
4.      Pengobatan DID
Penderita DID sangat mudah dihipnotis, dan diyakini bahwa mudahnya mereka dihipnotis dimanfaatkan oleh mereka (tanpa disadari) untuk mengatasi stres dengan menciptakan kondisi dissosiatif yang mirip dengan trance untuk mencegah munculnya ingatan yang menakutkan tentang berbagai kejadian traumatis (Butler dkk., 1996). Karena alasan ini, hipnotis umum digunakan dalam penanganan DID, (Putnam, 1993).
Hipnotis umum digunakan dalam penanganan DID (Putnam, 1993). Pemikirannya adalah pemulihan kenangan menyakitkan yang direpres akan difasilitasi dengan menciptakan kembali situasi penyiksaan yang diasumsikan dialami penderita. Terapi juga membantu dengan aman menghilangkan proses kenangan yang menyakitkan, mengembangkan coping, dan keterampilan baru, mengembalikan fungsi umum tubuh, dan meningkatkan hubungan sosial.
·         Tujuannya adalah integrasi beberapa kepribadian
·         Setiap kepribadian harus dibantu untuk memahami bahwa dia adalah bagian diri satu orang dan kepribadian-kepribadian tersebut dimunculkan oleh diri sendiri.
·         Terapis harus menggunakan nama setiap kepribadian hanya untuk kenyamanan, bukan sebagai cara untuk menegaskan eksistensi kepribadian yang terpisah dan otonom yang tidak memiliki tanggungjawab secara keseluruhan atas berbagai tindakan orang yang bersangkutan secara keseluruhan.
·         Seluruh kepribadian harus diperlakukan dengan adil dan empati
·         Terapis harus mendorong empati dan kerja sama di antara berbagai kepribadian.
·         Diperlukan kelembutan dan dukungan berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak yang mungkin telah memicu munculnya berbagai kepribadian.
Tujuan setiap pendekatan terhadap DID haruslah untuk meyakinkan penderita bahwa memecah diri menjadi beberapa kepribadian yang berbeda tidak diperlukan lagi untuk menghadapi berbagai trauma, baik trauma di masa lalu yang memicu dissosiasi awal atas trauma di masa kini atau yang akan dihadapi di masa mendatang. Selain itu, dengan asumsi bahwa DID dan gangguan dissosiatif lain dalam beberapa hal nerupakan respons pelarian dari stress yang sangat berat, penanganan dapat ditingkatkan dengan mengajarkan pada penderita untuk menghadapi berbagai tantangan masa kini dengan lebih baik.
Berbagai bentuk terapi yang dikemukakan oleh para psikiater di antaranya adalah :
·         Terapi obat bisa meringankan beberapa gejala-gejala co-existing khusus, seperti gelisah atau depresi, tetapi tidak mempengaruhi gangguan itu sendiri.
·         Psikoterapi. Terapi ini memang agak sulit dan sangat menyakitkan secara emosional. Karena orang tersebut mengalami emosional yang tinggi saat ingatan traumanya teringat kembali selama terapi. Biasanya diperlukan dua sampai satu minggu sesi psikoterapi yang dilakukan dan ini butuh waktu tiga sampai enam tahun.
·         Terapi psikoanalisis. Terapi ini lebih banyak dipilih. Karena tujuannya untuk mengangkat represi menjadi hukum sehari-hari dan dicapai melalui penggunaan berbagai teknik psikoanalitik dasar. Terapi ini menggunakan cara hipnotis.
·         Terapi restrukturisasi kognitif. Menurut Nijenhuis bahwa prosedur ini bertujuan untuk membalikkan keadaan dan terapi ini efektif untuk mengubah perpindahan identitas penderita secara bertahap. Namun terapi ini hanya dapat dilakukan setelah menemukan kepribadian yang dimilki si penderita. Sebab, penderitanya tidak pernah menyadari kalau ia memiliki banyak kepribadian yang mungkin muncul. Kelima DID terintegrasi. Terapi ini menggunakan pendekatan kompreherensif dengan 9 tahapan, yaitu:
o   Tahap Psikoterapi
o   Intervensi Preliminary (mendiagnosis kepribadian)
o   Pengumpulan informasi detail mengenai latar belakang masalah penderita
o   Menganalis trauma yang dialami klien
o   Analisis resolusi
o   Integrasi resolusi
o   Mempelajari alternatif kemampuan menghadapi masalah
o   Tindak lanjut terapi
o   Follow-up
DAFTAR PUSTAKA
Ringrose, Jo. L. (2012). Understanding and treating dissociative identity disorder (or multiple personality disorder). London : Karnac Books.

LINK VIDEO 
Meet the mother with 20 personalities : https://www.youtube.com/watch?v=n2atzoaA2NI

“Inside” Dissociative Identity Disorder https://www.youtube.com/watch?v=0tITzDjPf4g
 

Kamis, 14 April 2016

ABRAHAM MASLOW



    
    



1.      Konsep Kepribadian
Teori kepribadian Maslow dibuat berdasarkan beberapa asumsi dasar mengenai motivasi.
a)      Maslow mengadopsi sebuah pendekatan menyeluruh pada motivasi. Yaitu keseluruhan dari seseorang, bukan hanya satu bagian atau fungsi yang termotivasi.
b)      Motivasi biasanya kompleks atau terdiri dari beberapa hal, yang berarti bahwa tingkah laku seseorang dapat muncul dari beberapa motivasi yang terpisah.
c)      Orang-orang berulang kali termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan.
d)     Semua orang dimanapun termotivasi oleh kebutuhan dasar yang sama.
e)      Kebutuhan dapat dibentuk menjadi sebuah hirarki

Hirarki kebutuhan yang diungkapkan Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di level rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan di level tinggi menjadi hal yang memotivasi.



                               I.            Kebutuhan Fisiologis
Merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia, seperti air, oksigen, makanan. Kebutuhan fisiologis berbeda dengan kebutuhan lainnya dalam dua hal, yaitu yang pertama, kebutuhan fisiologis adalah satu-satunya kebutuhan yang dapat terpenuhi atau bahkan selalu terpenuhi. Yang kedua adalah kemampuannya untuk muncul kembali.
                            II.            Kebutuhan akan Keamanan
Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, orang akan memikirkan tentang keamanan diri mereka. Misalnya keamanan fisik, perlindungan, ketergantungan. Kebutuhan keamanan tidak mungkin terpenuhi secara berlebihann. Orang tidak akan pernah benar-benar terlindungi dari meteor, kebakarna, dan sebagainya.
                         III.            Kebutuhan akan Cinta dan Keberadaan
Contohnya adalah keinginan untuk berteman, mempunyai pasangan dan anak. Orang yang kebutuhan akan cinta dan keberadaannya cukup terpenuhi sejak kecil tidak akan menjadi panik ketika cintanya ditolak. Orang semacam ini mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka akan diterima oleh orang-orang yang penting bagi mereka, jadi ketika orang lain menolak merak, mereka tidak merasa hancur.
                         IV.            Kebutuhan akan Penghargaan
Mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan, dan pengetahuan yang orang lain hargai tinggi. Terdapat dua tingkatan penghargaan, yaitu reputasi dan harga diri.
                            V.            Kebutuhan akan Aktualisasi Diri
setelah kebutuhan akan penghargaan terpenuhi, orang tidak akan selalu bergerak menuju level aktualisasi diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri mencakup pemeuhan diri, sadar akan semua potensi diri, dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin.

2.      Kepribadian Sehat
Orang-orang yang telah memenuhi hirarki kebutuhan, mereka bebas dari psikosis, neurosis, atau gangguan-gangguan patologis lainnya. Mereka merupakan model pematangan dan kesehatan. Mereka mengetahui mereka siapa dan mau kemana.
Menurut Maslow, sangat penting untuk aktualisasi diri selanjutnya yaitu anak merasa dicintai. Maslow menekankan pentingnya dua tahun pertama kehidupan; apabila anak yang berusia dua tahun tidak menerima cinta, rasa aman, dan penghrgaan yang memadai, maka akan sulit baginya untuk bertumbuh ke arah aktualisasi diri. Terdapat sifat yang menggambarkan pengaktualisasian diri menurut Maslow:
a)      Mengamati realitas secara efisien
b)      Penerimaan umum atas kodrat orang lain dan diri sendiri
c)      Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran
d)     Fokus pada masalah-masalah diluar diri mereka
e)      Kebutuhan akan privasi dan independensi
f)       Berfungsi secara otonom
g)      Apresiasi yang senantiasa segar
h)      Pengalaman-pengalaman mistik atau “puncak”
i)        Minat sosial
j)        Hubungan antar pribadi
k)      Struktur watak demokratis
l)        Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk
m)    Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan
n)      Kreativitas
o)      Resistensi terhadap inkulturasi

3.      Perkembangan Kesehatan Mental
Maslow menyimpulkan bahwa semua manusia dilahirkan dengan kebutuhan-kebutuhan instinctive yang mendorong kita untuk tumbuh dan berkembang, untuk mengaktualisasikan diri kita, untuk menjadi semuanya sejauh kemampuan kita.
Dia menekankan, meskipun kita dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang malang, namun kita bukanlah korban dari pengalaman ini; kita dapat berubah, tumbuh, dan mecapai tingkat-tingkat kesehatan psikologis yang tinggi. Dalam pandangan humanistik ini, manusia memiliki potensi lebih banyak daripada apa yang mereka capai. Maslow berpendapat bahwa apabila kita dapat melepaskan potensi itu, maka kita semua dapat mencapai keadaan eksistensi yang ideal yang dapat ditemui pada orang-orang yang mengaktualisasikan diri mereka.



Daftar Pustaka:
Feist, dan Feist. (2010). Teori kepribadian edisi 7. Jakarta : Salemba Empat.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan : model-model kepribadian sehat. Yogyakarta : Kanisius