Minggu, 16 Juli 2017

TEKNIK TERAPI DESENSITISASI SISTEMATIS



Desensitisasi sistematis merupakan sebuah terapi yang bertujuan untuk mengurangi, menghambat, dan menghilangkan respon secara bertahap dengan memunculkan respon yang berlawanan. Desensitisasi sistematis dikembangkan oleh Joseph Wolpe (1969) yang bertumpu pada fakta bahwa seseorang tidak dapat serempak merasa cemas dan rileks. Wolpe menggunakan relaksasi sebagai cara mengimbangi stimulus yang ditakuti. Teknik desensitisasi sistematis ini merupakan teknik yang cocok digunakan untuk menangani fobia-fobia, kecemasan dan ketakutan. Teknik ini bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan terhadap ujian, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.
Dalam teknik desensitisasis sistematis terdapat dua poin dalam pelaksanaannya, yaitu extinction dan counter conditioning. Extinction merupakan proses penghilangan respon kecemasan karena telah dicounter dengan relaksasi. Sedangkan counter conditioning merupakan proses dimana terapis menyajikan stimulus yang menyenangkan atau merelaksasi individu kemudian membuat kondisi baru dengan mengganti rasa cemas menjadi rileks.
Desensitisasi sistematis terdiri dari tiga tahap, yaitu melatih relaksasi otot secara mendalam, menyusun hierarki kecemasan, dan mengkhayalkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan yang diimbangi dengan relaksasi. Untuk latihan relaksasi otot secara mendalam digunakan modifikasi prosedur dari Jacobson (1934). Pasien diajarkan untuk relaks dengan menegangkan kemudian mengendurkan otot progresif. Tingkatkan stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus penghasil kecemasan dan respon kecemasan itu akan terhapus.
Selain dengan meminta klien untuk membayangkan mengenai stimulus-stimulus yang ditakutinya, teknik desensitisasi sistematis juga bisa digunakan dengan melibatkan keberadaan individu tersebut secara aktual pada situasi-situasi dalam hirarki kecemasannya. Teknik itu disebut dengan desensitisasi sitematis in vivo. Teknik jenis ini digunakan jika individu memiliki kesulitan menggunakan imajinasinya atau tidak mengalami kecemasan selama melakukan imajinasi. Kesulitan dalam teknik in vivo adalah individu sering sulit mencapai keadaan rileks ketika melakukan kegiatan tersebut secara simultan, terutama jika menggunakan respon counter conditioning untuk mengurangi kecemasannya.
Adapun prosedur pelaksanaaan teknik desensitisasi sistemais yang telah dikemukakan oleh Wolpe adalah sebagai berikut:
a)  Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang dapat membangkitkan kecemasan ujian. Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan konseli dalam area tertentu.
b)     Konselor dan konseli mendaftar hasil-hasil apa saja yang menyebabkan konseli diserang perasaan cemas dan kemudian menyusunnya secara hirarkis.
c)      Konselor melatih konseli untuk mencapai keadaan rileks atau santai.
d)     Konselor melatih konseli membentuk respon-respon antagonistik yang dapat menghambat perasaan cemas.
e)      Pelaksanaan teknik desensitisasi sistematis, prosesnya melibatkan keadaan dimana konseli sepenuhnya santai dengan mata tertutup.

DAFTAR PUSTAKA
Tresna, Gede I. (2011). Efektifitas Konseling Behavioral dengan Teknik Desnsitisasi Sistematis untuk Mereduksi Kecemasan Menghadapi Ujian. http://jurnal.upi.edu/file/9-I_Gede_Tresna.pdf diakses pada 16 Juli 2017.
Mustika, D.D., Yusmansyaah, dan Rahmayanthi, R. Penggunaan Taknik Desensitisasi Sistematis untuk Mnegurangi Kecemasan Calon Mahasiswa dalam Mneghadapi SBMPTN. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=289206&val=1571&title=PENGGUNAAN TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS UNTUK MENGURANGI KECEMASAN CALON MAHASISWA DALAM MENGHADAPI SBMPTN diakses pada 16 Juli 2017
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius


Tidak ada komentar:

Posting Komentar