Desensitisasi sistematis merupakan
sebuah terapi yang bertujuan untuk mengurangi, menghambat, dan menghilangkan
respon secara bertahap dengan memunculkan respon yang berlawanan. Desensitisasi
sistematis dikembangkan oleh Joseph Wolpe (1969) yang bertumpu pada fakta bahwa
seseorang tidak dapat serempak merasa cemas dan rileks. Wolpe menggunakan
relaksasi sebagai cara mengimbangi stimulus yang ditakuti. Teknik desensitisasi
sistematis ini merupakan teknik yang cocok digunakan untuk menangani
fobia-fobia, kecemasan dan ketakutan. Teknik ini bisa diterapkan secara efektif
pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal,
ketakutan terhadap ujian, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan
frigiditas seksual.
Dalam teknik desensitisasis sistematis terdapat
dua poin dalam pelaksanaannya, yaitu extinction
dan counter conditioning. Extinction merupakan
proses penghilangan respon kecemasan karena telah dicounter dengan relaksasi. Sedangkan
counter conditioning merupakan proses
dimana terapis menyajikan stimulus yang menyenangkan atau merelaksasi individu
kemudian membuat kondisi baru dengan mengganti rasa cemas menjadi rileks.
Desensitisasi sistematis terdiri dari
tiga tahap, yaitu melatih relaksasi otot secara mendalam, menyusun hierarki
kecemasan, dan mengkhayalkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan yang
diimbangi dengan relaksasi. Untuk latihan relaksasi otot secara mendalam
digunakan modifikasi prosedur dari Jacobson (1934). Pasien diajarkan untuk
relaks dengan menegangkan kemudian mengendurkan otot progresif. Tingkatkan stimulus
penghasil kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus penghasil
kecemasan dan respon kecemasan itu akan terhapus.
Selain dengan meminta klien untuk
membayangkan mengenai stimulus-stimulus yang ditakutinya, teknik desensitisasi
sistematis juga bisa digunakan dengan melibatkan keberadaan individu tersebut
secara aktual pada situasi-situasi dalam hirarki kecemasannya. Teknik itu
disebut dengan desensitisasi sitematis in
vivo. Teknik jenis ini digunakan jika individu memiliki kesulitan
menggunakan imajinasinya atau tidak mengalami kecemasan selama melakukan
imajinasi. Kesulitan dalam teknik in vivo
adalah individu sering sulit mencapai keadaan rileks ketika melakukan
kegiatan tersebut secara simultan, terutama jika menggunakan respon counter conditioning untuk mengurangi
kecemasannya.
Adapun prosedur pelaksanaaan teknik
desensitisasi sistemais yang telah dikemukakan oleh Wolpe adalah sebagai
berikut:
a) Desensitisasi
sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus
yang dapat membangkitkan kecemasan ujian. Disediakan waktu untuk menyusun suatu
tingkatan kecemasan konseli dalam area tertentu.
b) Konselor dan
konseli mendaftar hasil-hasil apa saja yang menyebabkan konseli diserang
perasaan cemas dan kemudian menyusunnya secara hirarkis.
c)
Konselor melatih
konseli untuk mencapai keadaan rileks atau santai.
d)
Konselor melatih
konseli membentuk respon-respon antagonistik yang dapat menghambat perasaan
cemas.
e)
Pelaksanaan teknik
desensitisasi sistematis, prosesnya melibatkan keadaan dimana konseli
sepenuhnya santai dengan mata tertutup.
DAFTAR PUSTAKA
Tresna, Gede I. (2011). Efektifitas Konseling Behavioral dengan
Teknik Desnsitisasi Sistematis untuk Mereduksi Kecemasan Menghadapi Ujian. http://jurnal.upi.edu/file/9-I_Gede_Tresna.pdf
diakses pada 16 Juli 2017.
http://psikologi.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2014/04/B-Mood-7-Floodiong-dan-DS.pdf
diakses pada 16 Juli 2017.
Mustika, D.D., Yusmansyaah, dan
Rahmayanthi, R. Penggunaan Taknik
Desensitisasi Sistematis untuk Mnegurangi Kecemasan Calon Mahasiswa dalam
Mneghadapi SBMPTN. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=289206&val=1571&title=PENGGUNAAN
TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIS UNTUK MENGURANGI KECEMASAN CALON MAHASISWA
DALAM MENGHADAPI SBMPTN diakses pada 16 Juli 2017
Semium, Yustinus. (2006). Kesehatan
Mental 3. Yogyakarta: Kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar